Refleksi Peran ORMAS & OKP Terhadap 81 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Solusi atau Banaspati?

Refleksi Peran ORMAS & OKP Terhadap 81 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Solusi atau Banaspati?
Opini: Muh Arya Dwi Madaprama
Bacakan Artikel

Organisasi masyarakat maupun pemuda dalam beberapa dasawarsa ini tidak lagi berfungsi sebagai wadah perjuangan nasional tetapi lebih mirip seperti labolatorium politik yang menampung kepentingan sebagai kawula kekuasaan. Sehingga, tak jarang eksistensi organisasi belakangan ini tidak lagi dianggap sebagai pembawa perubahan dan mendapatkan kredibilitas yang baik, tetapi lebih mirip moncong kesialan dan sumber gangguan, apa lagi jika aktivitasnya yang abstrud, meresahkan dan merugikan banyak pihak seperti konvoi dan demonstrasi yang kerap dilakukan tidak pernah menemui hasil dan perubahan yang jelas, selain berujung pada kesepakatan dibawah meja atau tindakan pragmatisme lainnya.

Sebagai kacung kekuasaan yang rela melakukan apa saja agar keinginannya terpenuhi, tidak jarang organisasi masyarakat dan pemuda rela diadu dan dibenturkan satu sama lain melalui kejadian yang beraneka ragam, salah satu yang kerap terjadi melalui proses kontestasi. pemilihan yang dianggap sebagai dinamika oleh beberapa tetuah, ternyata diam-diam telah mengundang donatur agar menyelipkan modal untuk menanam pengaruh dan telunjuk pada organisasi tersebut, sehingga proses pemilihan menjadi rumit dan kadang terpecah - belah, bukan karena kehendak pengetahuan maupun pengalaman dari peserta, tetapi bermuara pada kepentingan pemodal yang terkuat dan terbesar.

Dalam kejadian yang berbeda-beda, sebagian besar organisasi masyarakat dan pemuda yang tidak memiliki prinsip independensi dan konsistensi ternyata telah menjadi perusahaan multiprofesi yang menyediakan segala macam pekerjaan demi kekuasaan, terkadang sebagai lembaga riset untuk data, juru tulis dan bicara seperti buzzer, influencer dan sales untuk promosi, diplomat untuk negosiasi, makelar untuk menghubungkan, aparat untuk membubarkan , preman dengan segala jatah, satuan pengamanan wilayah, pegawai pajak dadakan, bahkan ada yang rela menjadi tuhan untuk menghilangkan nyawa manusia.

Berdasarkan Fenomena - fenomena yang telah diuraikan sebelumnya, dapat kita lihat kedudukan Organisasi masyarakat dan Pemuda Pasca reformasi sampai 81 tahun Indonesia Merdeka hari ini tidak lagi menjadi solusi terhadap kehidupan demokrasi di indonesia, bahkan telah menjadi banaspati dengan petaka baru, Organisasi tidak lagi menjadi wadah perjuangan nasional yang menolak segala penyebab kemunduran bangsa seperti imprealisme, kolonialisme, kapitalisme sebagaimana awal kelahirannya, tetapi turut menjadi makelar bahkan aktor dalam tindakan tersebut. Organisasi hari ini mesti kembali pada Khittah perjuangannya terkhusus bagi kemajuan negara dan bangsa yang sangat terpuruk ini, Organisasi harus kembali melahirkan kader-kader yang memiliki prinsip, kompentensi, integritas, nilai guna serta memiliki keberanian dalam bersikap terhadap sesuatu yang benar dan salah, apa lagi jika berpotensi mengancam harkat dan martabat kemanusiaan.

Organisasi bukan ruang untuk pemenuhan kebutuhan pribadi, tetapi sebagai transportasi yang membawa kemaslahatan bagi banyak golongan, Organisasi bukanlah sarang kemunafikan yang menyimpan tabir para berandalan dari kenyataan, Organisasi bukan alat pemuas dahaga pemegang kekuasaan, Organisasi bukan Perusahaan yang menyediakan jasa dalam melahirkan petaka maupun kehancuran, Organisasi adalah salah satu ruang kebijaksaan yang menghimpun pengetahuan dan pengalaman dari setiap individu untuk suatu kemajuan, Organisasi adalah salah satu rumah sejarah yang penuh dengan tinta pengorbanan dari usaha, doa, tangis serta perlawanan terhadap kemungkaran.ย 

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: