Matahari Terbit di Ujung Timur: Kepemimpinan Indonesia Timur Bergeser dari Sulawesi ke Papua

Catatan Pinggir Pasca Musda Golkar Sulawesi Selatan

Matahari Terbit di Ujung Timur: Kepemimpinan Indonesia Timur Bergeser dari Sulawesi ke Papua
Dok. Pribadi
Bacakan Artikel

Intens.id, Oleh: Syakhrul Affandhy
Sekretaris DPD AMPI Sulawesi Selatan
Alumni HMI Komisariat Kedokteran Gigi UNHAS

Ada ungkapan yang selalu mengingatkan kita tentang Indonesia: Matahari selalu terbit dari timur. Kalimat itu bukan sekadar penjelasan geografis, melainkan juga metafora tentang lahirnya harapan, pembaruan, dan kepemimpinan baru. Dalam politik Indonesia, metafora itu terasa semakin relevan ketika kita menyaksikan munculnya figur-figur nasional dari kawasan paling timur Nusantara.

Selama beberapa dekade, ketika berbicara mengenai kepemimpinan politik Indonesia Timur, perhatian hampir selalu tertuju pada Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan. Makassar tumbuh sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dan kaderisasi politik. Dari ekosistem organisasi mahasiswa, birokrasi, hingga dunia usaha, lahir banyak tokoh yang memberi warna bagi kepemimpinan nasional.

Dominasi tersebut tidak hadir tanpa alasan. Sulawesi Selatan memiliki tradisi organisasi yang kuat, budaya intelektual yang hidup, serta jaringan sosial yang luas. Berbagai organisasi kemahasiswaan, kepemudaan, dan profesi menjadi ruang pembentukan kader yang kemudian mengisi posisi strategis di pemerintahan, parlemen, partai politik, maupun dunia usaha.

Namun, sejarah politik tidak pernah berhenti pada satu wilayah. Setiap zaman melahirkan pusat gravitasinya sendiri. Seiring semakin terbukanya demokrasi dan meningkatnya mobilitas sosial, kesempatan memimpin tidak lagi dimonopoli oleh daerah-daerah yang sejak lama menjadi pusat kekuasaan politik nasional.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: