Program Dosen Berkarya UB Dorong Sinergi Blue Economy di Singkawang, Kunci Pembangunan Berkelanjutan

Program Dosen Berkarya UB Dorong Sinergi Blue Economy di Singkawang,  Kunci Pembangunan Berkelanjutan
Program Dosen Berkarya UB Dorong Sinergi Blue Economy di Singkawang, Kunci Pembangunan Berkelanjutan. (Foto :Ist)
Bacakan Artikel

Dalam pengembangan produk olahan hasil laut, pelatihan dan pendampingan yang sudah ada dapat dilanjutkan dengan fokus pada aspek kemasan, pemasaran digital, legalitas produk, dan standar produksi dasar. Produk-produk khas seperti ikan asin, cencalok, terasi, belacan, serta produk berbasis ikan atau udang kecil memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui fasilitasi PIRT, sertifikasi halal, dan pendampingan produksi yang sesuai dengan skala usaha mikro. Dengan demikian, pelaku usaha pesisir dapat meningkatkan nilai tambah produk mereka secara bertahap dan realistis.

Untuk tata kelola pasar ikan, langkah-langkah yang sudah berjalan dapat diperkuat melalui pendataan pedagang, perbaikan fasilitas dasar, penyediaan tempat penyimpanan yang memadai, serta komunikasi yang lebih rutin antara pedagang resmi, pedagang kecil, pengelola pasar, dan dinas terkait. Pendekatan dialogis sangat penting agar penataan pasar tidak hanya menjaga ketertiban, tetapi juga tetap memperhatikan keberlanjutan penghidupan pelaku ekonomi kecil.

Organisasi nelayan, seperti Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Singkawang dan kelompok nelayan lainnya, diharapkan dapat terus berperan sebagai penghubung vital antara nelayan dan pemerintah daerah. Peran ini mencakup sosialisasi aturan, membantu pendampingan dokumen, mencatat kebutuhan nelayan, menyampaikan aspirasi secara terstruktur, serta memperluas edukasi mengenai keselamatan melaut, pengelolaan sampah laut, dan penggunaan teknologi sederhana yang mulai diadopsi oleh sebagian nelayan.

Di aspek lingkungan, program pengelolaan sampah laut dan kegiatan bersih pesisir yang telah berjalan dapat dikembangkan melalui pemilahan sampah dari sumber, pengumpulan sampah plastik dari aktivitas melaut, penguatan bank sampah, serta kerja sama dengan pihak yang dapat mengolah atau memanfaatkan sampah yang terkumpul. Pengelolaan sampah laut akan memberikan dampak yang lebih besar apabila masyarakat melihat adanya manfaat lingkungan sekaligus manfaat ekonomi dari kegiatan tersebut.

Pada aspek mangrove, potensi yang ada di wilayah pesisir Singkawang dapat diperkuat melalui edukasi, pembibitan, penanaman berbasis komunitas, pemantauan partisipatif, dan pengembangan wisata pembelajaran lingkungan. Upaya ini dapat menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, sekolah, komunitas lingkungan, dan kelompok pesisir, sekaligus membuka peluang pengelolaan konservasi berbasis komunitas yang sesuai dengan karakteristik lokal.

Pada tingkat provinsi, koordinasi pengelolaan wilayah laut 0–12 mil yang menjadi kewenangan provinsi dapat terus diperkuat melalui dukungan pengawasan sumber daya perikanan, pendampingan program pesisir berbasis kebutuhan daerah, dan komunikasi rutin antara dinas provinsi, Unit Pelaksana Teknis (UPT), pemerintah kota, dan kelompok masyarakat. Penguatan koordinasi ini krusial agar program pengelolaan pesisir dapat lebih mudah menjangkau kebutuhan nelayan, pelaku usaha pesisir, serta komunitas yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan.

Sementara itu, dukungan kebijakan dari tingkat pusat dapat diarahkan pada penyederhanaan prosedur layanan, penguatan literasi digital bagi nelayan kecil, bantuan sarana produksi dan penyimpanan dingin, serta penyusunan panduan implementasi blue economy yang semakin responsif terhadap kondisi lokal. Dukungan tersebut penting agar kebijakan nasional dapat diterapkan secara lebih adaptif, sesuai dengan kapasitas nelayan kecil, karakteristik wilayah pesisir, dan kebutuhan pelaku usaha mikro.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan berharga bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat tata kelola pesisir yang semakin terintegrasi, partisipatif, dan berkelanjutan di Kota Singkawang. Melalui penguatan kolaborasi antar aktor, blue economy bukan hanya sekadar konsep, melainkan jalan nyata untuk memperkuat ekonomi masyarakat pesisir sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan laut, pesisir, dan mangrove di Kota Singkawang untuk generasi mendatang.

Pilih Halaman: