Program Dosen Berkarya UB Dorong Sinergi Blue Economy di Singkawang, Kunci Pembangunan Berkelanjutan

Program Dosen Berkarya UB Dorong Sinergi Blue Economy di Singkawang,  Kunci Pembangunan Berkelanjutan
Program Dosen Berkarya UB Dorong Sinergi Blue Economy di Singkawang, Kunci Pembangunan Berkelanjutan. (Foto :Ist)
Bacakan Artikel

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan pesisir dan perikanan di Singkawang adalah sebuah ekosistem kompleks yang melibatkan peran saling berkaitan antara pemerintah kota, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, organisasi nelayan, pelaku usaha, dan masyarakat pesisir. Meskipun kewenangan pengelolaan wilayah laut 0-12 mil berada pada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, pemerintah kota tetap memegang peran strategis.

Hal ini karena pemerintah kota merupakan aktor yang paling dekat dan bersentuhan langsung dengan nelayan serta pelaku ekonomi pesisir, menjadikannya ujung tombak dalam implementasi kebijakan di lapangan.

Kedekatan pemerintah kota dengan masyarakat pesisir terwujud dalam berbagai bentuk pelayanan dan pendampingan. Peran tersebut meliputi pendampingan administratif, fasilitasi rekomendasi bahan bakar minyak (BBM), pembinaan kelompok nelayan, dukungan terhadap pengolahan hasil laut, tata kelola pasar ikan, hingga penanganan isu lingkungan pesisir.

Temuan ini semakin memperkuat pandangan bahwa blue economy di tingkat lokal bukan hanya sebuah konsep, melainkan agenda bersama yang secara nyata mengintegrasikan aspek ekonomi, lingkungan, dan keberlanjutan penghidupan masyarakat pesisir.

Dr. Qurnia Indah Permata Sari, selaku Ketua Peneliti, menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam menangani isu pesisir di Singkawang.

“Di Singkawang, isu pesisir tidak berdiri sendiri. Ada pelayanan kepada nelayan, pengolahan hasil laut, pasar ikan, sampah laut, mangrove, hingga koordinasi antarlevel pemerintahan. Temuan ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang sudah berjalan dapat terus diperkuat agar potensi pesisir memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Senada dengan Dr. Qurnia, Selamet Daroini, M.AP., Direktur Institut Hijau Indonesia, menekankan bahwa penguatan blue economy di Singkawang harus dimulai dari langkah-langkah praktis yang dekat dengan kebutuhan masyarakat pesisir.

“Potensi pesisir Singkawang dapat diperkuat melalui kerja bersama yang sederhana tetapi konsisten, seperti pendampingan nelayan, penguatan produk olahan hasil laut, pengelolaan sampah laut, dan edukasi mangrove. Hal-hal ini penting agar blue economy tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar terasa manfaatnya bagi masyarakat pesisir,” jelas Selamet Daroini.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: