Program Dosen Berkarya UB Dorong Sinergi Blue Economy di Singkawang, Kunci Pembangunan Berkelanjutan

Program Dosen Berkarya UB Dorong Sinergi Blue Economy di Singkawang,  Kunci Pembangunan Berkelanjutan
Program Dosen Berkarya UB Dorong Sinergi Blue Economy di Singkawang, Kunci Pembangunan Berkelanjutan. (Foto :Ist)
Bacakan Artikel

Intens.id, Makassar Pesisir Kota Singkawang, dengan kekayaan sumber daya lautnya, menyimpan potensi besar bagi penguatan ekonomi masyarakat. Mulai dari aktivitas nelayan, perdagangan dan pengolahan hasil laut, hingga pengelolaan sampah laut dan pelestarian mangrove, semuanya merupakan pilar penting.

Potensi ini, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi fondasi bagi ekonomi biru (blue economy) yang kolaboratif, di mana pembangunan pesisir berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan keberlanjutan penghidupan masyarakat lokal. Namun, mewujudkan visi ini tidak lepas dari tantangan tata kelola yang kompleks.

Isu krusial ini menjadi fokus utama dalam Program Dosen Berkarya yang digagas oleh Dr. Qurnia Indah Permata Sari, S.IP., M.Sos. dan Taufik Akbar, S.IP., M.IP., dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya.

Bekerja sama dengan Institut Hijau Indonesia, tim peneliti ini melakukan studi mendalam di pesisir Singkawang, yang berjudul “Governance Challenges in Blue Economy Implementation: Evidence from Coastal Singkawang”. Penelitian ini secara khusus menyoroti urgensi penguatan kolaborasi lintas tingkat pemerintahan, lintas sektor, dan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan pesisir Singkawang. Senin, 6 Juli 2026.

Melalui penelitian ini, tim dari Universitas Brawijaya menggarisbawahi bahwa pengembangan blue economy di tingkat lokal tidak sekadar bertumpu pada potensi sumber daya laut semata. Lebih dari itu, keberhasilannya sangat ditentukan oleh bagaimana berbagai aktor, mulai dari pemerintah, organisasi nelayan, pelaku usaha, hingga masyarakat dapat bekerja sama dalam aspek-aspek vital seperti pelayanan nelayan, pengolahan hasil laut, tata kelola pasar ikan, pengelolaan sampah laut, dan pelestarian mangrove.

Dalam konteks ini, blue economy dipandang sebagai agenda tata kelola bersama yang secara inheren menghubungkan ekonomi pesisir dengan keberlanjutan lingkungan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Penelitian ini dijalankan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, melibatkan wawancara mendalam, observasi lapangan, dan telaah dokumen relevan. Informan penelitian mencakup spektrum luas pemangku kepentingan, di antaranya unsur pemerintah daerah dan provinsi, organisasi nelayan, para nelayan, pedagang ikan, pelaku pengolahan hasil laut, serta berbagai pihak terkait lainnya yang beroperasi di wilayah pesisir Singkawang.

Pendekatan komprehensif ini memungkinkan peneliti untuk menangkap secara langsung pengalaman dan perspektif para aktor yang terlibat dalam pengelolaan pesisir dan perikanan.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: