Makassar Bebas Sampah 2029: Dilema Warga Memilah di Dapur, Sampah Kembali Tercampur di Truk

Makassar Bebas Sampah 2029: Dilema Warga Memilah di Dapur, Sampah Kembali Tercampur di Truk
Makassar Bebas Sampah 2029: Dilema Warga Memilah di Dapur, Sampah Kembali Tercampur di Truk. (Foto: MA)
Bacakan Artikel

"Namun, kepalsuan ekologis (ecological insincerity) langsung mengintai ketika penjemputan tiba. Apa gunanya seorang warga dengan penuh kesadaran memisahkan sampah organik dan anorganik jika pada hari pengangkutan, armada truk atau motor sampah melumat dan menyatukan kembali semuanya ke dalam satu bak yang sama?," sambungnya.

Menurut Mashud, pemilahan di tingkat rumah tangga yang tidak diimbangi dengan sistem transportasi tersegregasi adalah sebuah ilusi komitmen. Ia hanya melahirkan kelelahan psikologis bagi warga yang telah mencoba peduli, sekaligus menegaskan bahwa birokrasi kita baru siap secara wacana, belum secara infrastruktur. Pola kumpul-angkut-buang yang konvensional ternyata belum benar-benar bergeser, meskipun nama kegiatannya sudah berganti menjadi lebih keren dan jargon-jargon lingkungan semakin digaungkan. Inkonsistensi ini berpotensi mengikis kepercayaan publik dan mengurangi partisipasi aktif masyarakat dalam jangka panjang.

Lebih jauh lagi, Mashud menyoroti adanya pergeseran beban moral pengelolaan sampah yang seolah-olah sengaja dialihkan ke pundak masyarakat kecil.

"Kita sibuk menjejahi pemukiman warga untuk mengajarkan pembuatan eco-brick atau tas dari bungkus kopi instan, sebuah solusi sirkular yang mulia, tetapi berskala mikro," katanya.

Sementara itu, di saat yang sama, industri skala besar terus membanjiri ruang domestik dengan kemasan plastik sekali pakai tanpa komitmen nyata terhadap extended producer responsibility (tanggung jawab perluasan produsen) di tingkat lokal.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: