Makassar Bebas Sampah 2029: Dilema Warga Memilah di Dapur, Sampah Kembali Tercampur di Truk

Makassar Bebas Sampah 2029: Dilema Warga Memilah di Dapur, Sampah Kembali Tercampur di Truk
Makassar Bebas Sampah 2029: Dilema Warga Memilah di Dapur, Sampah Kembali Tercampur di Truk. (Foto: MA)
Bacakan Artikel

Intens.id, Makassar โ€“ Program Jelajah Sampah yang baru saja ditabuh genderangnya oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar pada Sabtu, 27 Juni 2026, telah menyulut optimisme di ruang publik. Dengan target ambisius Makassar Bebas Sampah 2029, inisiatif ini disambut dengan berbagai kegiatan seremonial, mulai dari pameran kerajinan daur ulang, penimbangan sampah hasil plogging, hingga warga yang dengan bangga memamerkan botol plastik hasil pilahan mereka. Di atas kertas, semua ini tampak seperti lompatan progresif menuju masa depan lingkungan yang lebih bersih.

Namun, di balik riuhnya optimisme tersebut, tersembunyi sebuah paradoks yang menusuk: warga diminta telaten memilah sampah di dapur mereka, hanya untuk menyaksikan seluruh hasil pilahan itu kembali tercampur dalam satu bak saat diangkut oleh truk sampah.

Fenomena ini menjadi sorotan utama Mashud Azikin, Pemerhati Persampahan sekaligus Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, yang menyoroti ketidakselarasan sistem dalam keterangan tertulisnya di Makassar pada Sabtu (27/6/2026).

Mashud Azikin menegaskan bahwa kritik terbesar terhadap gerakan Jelajah Sampah ini adalah jurang pemisah antara upaya edukasi di tingkat hulu domestik dan kesiapan sistem logistik di hilir.ย 

"Kita gencar mengedukasi ibu-ibu rumah tangga untuk memisahkan sisa makanan, botol plastik, hingga sampah residu. Warga dituntut mengubah kebiasaan, meluangkan waktu, dan menyediakan wadah yang berbeda di rumah mereka masing-masing," ujar Mashud.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: