Perundungan dan Diamnya Orang Dewasa

Perundungan dan Diamnya Orang Dewasa
ilustrasi by AI
Bacakan Artikel
Rika Arlianti DM

Penulis, Pegiat Isu Pendidikan dan Anak

Terjemahnya:  “Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain...” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).

Hadis di atas menjelaskan agar kita senantiasa menjaga lisan dengan tidak mencela, menghina, menggunjing (gibah), mengadu domba, atau mengeluarkan perkataan buruk yang dapat menyakiti orang lain. Juga menjaga tangan untuk tidak berbuat zalim seperti memukul, mencuri, merusak, atau melakukan perbuatan fisik yang merugikan sesama.

Kedua pedoman ini mengingatkan bahwa keimanan semestinya tercermin dalam perilaku yang menghadirkan rasa aman bagi orang lain, bukan justru menjadi sumber ketakutan dan penderitaan.

Dalam mendidik anak, nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan dengan mengajarkan mereka untuk tidak mengejek, tidak menyakiti, menghargai perbedaan, serta berani bersikap ketika melihat ketidakadilan. Sebab, pendidikan akhlak bukan hanya tentang membentuk pribadi yang baik bagi dirinya sendiri, tetapi juga menumbuhkan tanggung jawab terhadap sesama.

Jangan Menunggu Anak Menjadi Korban Berikutnya

Peristiwa yang melibatkan anak-anak, terlebih ketika berujung pada kehilangan nyawa, semestinya menggugah kesadaran kita untuk mengevaluasi kembali cara melindungi mereka.

Kita tidak perlu menunggu kasus serupa terjadi untuk mulai memperhatikan interaksi anak-anak di sekolah. Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka, sekolah harus memastikan sistem pencegahan dan penanganan berjalan efektif, sementara masyarakat perlu berhenti menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang lumrah dalam proses tumbuh kembang anak.

Perlindungan terhadap anak bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama.

Anak-anak seharusnya mengingat sekolah sebagai tempat mereka menemukan ilmu, persahabatan, dan kesempatan untuk bermimpi, bukan sebagai tempat yang membuat mereka takut kepada sesamanya.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mendidik anak agar berprestasi, tetapi lupa membentuk hati nurani mereka. Sebab, pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai, melainkan juga tentang bagaimana pengetahuan itu membentuk manusia yang tidak kehilangan kemanusiaannya. Wallahu a’lam bisshawab.

Pilih Halaman: