Paradoks Pepaya di Tengah Belantara Beton dan Sampah: Tamparan Alam untuk Kesadaran Kota

Paradoks Pepaya di Tengah Belantara Beton dan Sampah: Tamparan Alam untuk Kesadaran Kota
Paradoks Pepaya di Tengah Belantara Beton dan Sampah: Tamparan Alam untuk Kesadaran Kota. (Foto: Achmad Yusran)
Bacakan Artikel

Intens.id, Makassar - Sebuah foto yang berhasil di dokumentasikan oleh Achmad Yusran baru-baru ini, menghadirkan sebuah paradoks kuat yang mengundang refleksi mendalam tentang kondisi lingkungan perkotaan dan peran manusia di dalamnya.

Foto tersebut menampilkan sebatang pohon pepaya yang, alih-alih tumbuh di tanah subur, justru berjuang dan berhasil bertahan hidup di sela-sela tiang besi berkarat dan tumpukan sampah. Fenomena ini, menurut Yusran, bukan sekadar pemandangan unik, melainkan sebuah kritik sekaligus simbol harapan dari alam yang terus mencari jalan untuk hidup di tengah kondisi yang tidak ideal.

Dalam keterangannya, Achmad Yusran menyoroti kontras mencolok: di satu sisi, manusia dengan segala kecerdasan dan kemampuan merencanakan, seringkali kesulitan menjaga ruang kota tetap bersih dan tertata. Di sisi lain, alam, dalam wujud pohon pepaya ini, menunjukkan ketahanan luar biasa dengan tetap beradaptasi dan bahkan berbuah di tengah kekumuhan.

"Foto ini menghadirkan paradoks yang kuat," tulis Yusran, menggambarkan bagaimana pohon pepaya itu tumbuh "di sela tiang besi dan tumpukan sampah," sebuah lokasi yang jauh dari ideal untuk pertumbuhan tanaman.

Narasi yang menyertai foto tersebut, yang diberi judul "Paradoks Pepaya dan Bra Wamita" (merujuk pada wacana dan upaya manusia dalam menjaga lingkungan), semakin mempertegas pesan yang ingin disampaikan.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: