Makmur Payabo: Pekerja Anak Bukan Sekadar Angka, Pendampingan Nyata Kunci Perubahan

Makmur Payabo: Pekerja Anak Bukan Sekadar Angka, Pendampingan Nyata Kunci Perubahan
World Day Against Child Labour, Makmur Payabo bawa anak-anaknya ke Mall Panakkukang. (Foto: YAPTA UI)
Bacakan Artikel

Intens.id, Makassar - Penanganan isu pekerja anak di Indonesia, khususnya di Makassar, tidak boleh berhenti pada angka statistik semata. Demikian penegasan Makmur Payabo dari Yayasan Pabbata Ummi Indonesia (YAPTA-UI), yang menekankan pentingnya pendekatan holistik dan pendampingan nyata bagi anak-anak yang terpaksa bekerja. Seruan ini mengemuka seiring peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak (World Day Against Child Labour) yang jatuh setiap tanggal 12 Juni, sebuah momen refleksi global terhadap hak-hak fundamental anak.

Isu pekerja anak di Indonesia, khususnya di wilayah perkotaan seperti Makassar, membutuhkan perhatian yang lebih mendalam dari sekadar data statistik. Makmur Payabo, dari Yayasan Pabbata Ummi Indonesia (YAPTA-UI), menegaskan bahwa pekerja anak bukanlah sekadar angka di atas kertas, melainkan individu dengan hak-hak yang perlu dilindungi dan didukung. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan tertulisnya pada momen peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak pada 12 Juni 2026, yang juga diisi dengan sebuah kegiatan inspiratif bagi anak-anak di Makassar.

Dalam memperingati momen penting tersebut, YAPTA-UI, mengajak sejumlah anak-anak berjalan-jalan dan berbelanja di Mall Panakukang, Makassar. Kegiatan ini bukan hanya sekadar rekreasi, melainkan sebuah upaya untuk memberikan pengalaman positif dan ruang bagi anak-anak untuk sejenak melupakan beban pekerjaan mereka.

"Kami mengajak anak-anak jalan di Mall Panakukang untuk belanja sambil refreshing. Kami menyampaikan terima kasih kepada pengelola Mall Panakukang yang telah memfasilitasi, sehingga anak-anak bisa bebas memilih pakaian sesuai ukuran dan keinginan mereka," ujar Makmur Payabo.

Inisiatif ini secara simbolis ingin mengembalikan hak anak untuk merasakan kebahagiaan dan memiliki pilihan, sesuatu yang seringkali terampas oleh tuntutan pekerjaan.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: