Mahasiswa K3 Universitas Sunan Gresik Luncurkan Gerakan ESG: Paparan Mikroplastik Mengkhawatirkan di Gresik

Mahasiswa K3 Universitas Sunan Gresik Luncurkan Gerakan ESG: Paparan Mikroplastik Mengkhawatirkan di Gresik
Mahasiswa Universitas Sunan Gresik Ungkap 100% Paparan Mikroplastik pada Warga, Desak Regulasi Mendesak. (Foto: ist)
Bacakan Artikel

Intens.id, Gresik– Kelompok Studi Mahasiswa Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Sunan Gresik (UNSURG) resmi meluncurkan gerakan Environmental Sovereignty Goals (ESG) pada Senin (11/5) di Lobby Gedung Kampus B. Peluncuran ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali literasi ekologi dan advokasi lingkungan di kalangan akademisi, ditandai dengan pameran interaktif dan pengecekan mikroplastik secara langsung menggunakan mikroskop digital yang menarik perhatian banyak pihak.

Gerakan ESG ini lahir dari keresahan mendalam para mahasiswa setelah mengkaji riset lembaga lingkungan Ecoton yang mengungkap paparan mikroplastik pada tubuh pekerja pengelola sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Berangkat dari temuan yang mengkhawatirkan tersebut, ESG membawa isu krusial ini ke ruang publik kampus dan merilis data awal yang cukup mengejutkan. Hasil penelitian awal mereka menunjukkan bahwa 100 persen dari sampel kulit wajah dan tangan yang diambil dari 100 partisipan, terdiri dari masyarakat umum dan akademisi di Gresik, terbukti positif terpapar mikroplastik.

Berdasarkan uji sampel mikroskopis yang dilakukan oleh tim ESG, temuan rinci menunjukkan adanya dua jenis partikel mikroplastik dominan. Pertama, partikel jenis fiber atau serat kain sintetis, yang ditemukan sebanyak 4 hingga 7 partikel per orang. Partikel ini berasal dari serat kain seperti nilon, poliester, dan akrilik. Angka ini bahkan melonjak signifikan hingga 12 partikel pada individu yang mengenakan pakaian berbahan poliester dengan corak tebal. Kedua, partikel jenis fragmen atau plastik keras, yang ditemukan sebanyak 1 hingga 3 partikel mikroplastik per orang. Partikel ini merupakan hasil degradasi dari berbagai jenis polimer plastik, termasuk PET (Polyethylene Terephthalate), PVC (Polyvinyl Chloride), PP (Polypropylene), PS (Polystyrene), dan HDPE (High-Density Polyethylene).

Partikel-partikel berbahaya tersebut, menurut kajian ESG, memiliki beragam jalur paparan ke tubuh manusia. Sumber utamanya meliputi pelepasan serat dari pakaian berbahan sintetis, degradasi akibat gesekan ban kendaraan di jalan raya, serta penguraian sampah plastik berlapis (multilayer) yang kemudian terbang bebas di udara. Fenomena ini menunjukkan bahwa mikroplastik telah menjadi ancaman yang tak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Menanggapi temuan ini, Dafa Ubaidillah Naufal Baihaqi, Bidang Kajian Ekologi ESG, menegaskan urgensi penetapan baku mutu mikroplastik.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: