JANUR Mendorong Ulama Perempuan di AHWA - Muktamar ke-35 NU

JANUR Mendorong Ulama Perempuan di AHWA - Muktamar ke-35 NU
JANUR (Jaringan NU- KULTURAL), (Ist).
Bacakan Artikel

JANUR (Jaringan NU-Kultural) meyakini setidaknya terdapat dua ulama perempuan yang memiliki kualifikasi tersebut.

Pertama, Nyai Dr. (Hc.) Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Selama puluhan tahun, ia menyuarakan penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, dan kehidupan beragama yang inklusif. Pengabdiannya menunjukkan bahwa otoritas keagamaan dan moral perempuan telah menjadi bagian penting dari kehidupan NU dan masyarakat Indonesia. Ia juga masuk dalam kepengurusan Musytasyar PBNU beberapa periode.

‎Kedua, Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid, ulama perempuan senior yang tumbuh dari tradisi pesantren dan keluarga besar pendiri NU. Putri KH Abdul Wahab Chasbullah ini memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan pesantren dan perjuangan NU. Hingga saat ini, ia tetap menjadi rujukan penting di lingkungan NU dan juga tercatat sebagai Mustasyar PBNU.

Kedua tokoh tersebut dinilai menunjukkan bahwa NU memiliki sumber daya keulamaan perempuan yang tidak dapat dipandang sebagai pelengkap.

Memberikan ruang kepada ulama perempuan dalam AHWA bukan semata-mata persoalan keterwakilan berdasarkan jenis kelamin. Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya memperluas perspektif keulamaan dalam pengambilan keputusan jam'iyah.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: