BIJANTA: Ketika Kesehatan Jiwa Tak Lagi Disembunyikan

BIJANTA

BIJANTA: Ketika Kesehatan Jiwa Tak Lagi Disembunyikan
Penerimaan penghargaan Gold pada kriteria Gender Equality and Social Inclusion (GEDSI) dalam InTechSEA 2026 Innovation Technology for Social & Environmental Awards oleh Arhan, S.Kep., Ns., M.Kep., Penanggung Jawab Kesehatan Jiwa dan Napza Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba.
Bacakan Artikel
Rika Arlianti DM

Penulis, Pegiat Isu Pendidikan dan Anak

Pendekatan serupa juga masuk ke lingkungan pendidikan melalui SEJIWA di sekolah dan Kampus Sehat Jiwa di perguruan tinggi.

Dengan demikian, kesehatan jiwa tidak hanya dibicarakan ketika seseorang sudah berada dalam kondisi berat. Edukasi, pencegahan, deteksi dini, dan akses terhadap pertolongan menjadi bagian dari upaya yang dibangun sejak awal.

Karena Pemulihan Tidak Hanya Soal Obat

Dalam perjalanan seorang pasien, pengobatan hanyalah salah satu bagian.

Ada keluarga yang harus belajar memahami kondisi anggota keluarganya. Ada pasien yang membutuhkan dukungan agar rutin menjalani pengobatan. Ada pula lingkungan sosial yang perlu belajar menerima dan tidak memberikan stigma.

Karena itu, BIJANTA menempatkan keluarga sebagai salah satu kekuatan penting dalam proses pemulihan.

Sekitar 70 persen pasien ODGJ disebut telah terlayani dengan baik, meskipun data spesifik mengenai tingkat kesembuhan belum tersedia.ย Namun, angka bukan satu-satunya cerita.

Ada pasien yang sebelumnya tersembunyi kemudian ditemukan. Ada keluarga yang mulai terbuka. Ada mereka yang akhirnya memperoleh pengobatan dan pendampingan. Dan ada pasien yang kembali memiliki ruang untuk menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Dua Ruang Pengabdian

Di balik pengembangan BIJANTA terdapat Arhan, S.Kep., Ns., M.Kep., Penanggung Jawab Kesehatan Jiwa dan Napza Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: