Sereh Wangi: Dari Penstabil Lahan Pasca Banjir Menjelma Emas Hijau Desa Pulu Sigi

Sereh Wangi: Dari Penstabil Lahan Pasca Banjir Menjelma Emas Hijau Desa Pulu Sigi
Sereh Wangi: Dari Penstabil Lahan Pasca Banjir Menjelma Emas Hijau Desa Pulu Sigi. -Foto: LTK
Bacakan Artikel

"Kalau lingkungannya tidak pulih, tidak akan ada produk, dan tidak akan ada pendapatan. Yang kami lakukan hanya membuktikan bahwa merawat alam bisa langsung berdampak ke ekonomi warga,” ujar Dilah, menekankan korelasi langsung antara kesehatan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Pendekatan ekonomi restoratif yang diusung Gampiri Interaksi ini memang sengaja membalik logika pembangunan konvensional.

"Biasanya alam diperas dulu, baru ekonomi dibagi. Di sini justru alam dipulihkan dulu, baru ekonomi tumbuh. Itu yang membuatnya lebih tahan lama,” tambah Nedya. Model ini menunjukkan bahwa investasi pada pemulihan lingkungan adalah fondasi untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Praktik inovatif dari Desa Pulu ini juga mendapat dukungan dari Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), sebuah asosiasi pemerintah kabupaten yang berfokus mendorong kemandirian daerah melalui ekonomi restoratif. LTKL melihat Lana Tumbavani sebagai contoh nyata dari gerakan kolektif kabupaten lestari yang menempatkan pemulihan lingkungan sebagai prasyarat utama bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dalam konteks agribisnis dan ekonomi desa, kisah Desa Pulu dan Lana Tumbavani menjadi bukti bahwa lahan yang pernah rusak akibat bencana dapat kembali menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi, asalkan pemulihan alam dijadikan titik awal dari setiap langkah pembangunan.

Pilih Halaman: