Sereh Wangi: Dari Penstabil Lahan Pasca Banjir Menjelma Emas Hijau Desa Pulu Sigi

Sereh Wangi: Dari Penstabil Lahan Pasca Banjir Menjelma Emas Hijau Desa Pulu Sigi
Sereh Wangi: Dari Penstabil Lahan Pasca Banjir Menjelma Emas Hijau Desa Pulu Sigi. -Foto: LTK
Bacakan Artikel

Proses produksi minyak esensial Lana Tumbavani menuntut kesabaran dan ketelitian ekstra. Sereh wangi membutuhkan waktu tanam awal sekitar delapan bulan sebelum panen perdana. Setelah itu, panen dapat dilakukan secara berkelanjutan setiap tiga bulan. Namun, tantangannya adalah rasio produksi yang sangat kecil: dari sekitar 200 kilogram daun sereh, hanya dapat dihasilkan kurang lebih 200 mililiter minyak murni. Uniknya, minyak yang dihasilkan tidak dicampur dengan aroma sintetis atau bahan tambahan lain, menjamin kemurnian dan kualitas premium yang menjadi nilai jual utama, sekaligus membatasi volume produksi.

Pada tahun 2024, meskipun total produksi minyak esensial Lana Tumbavani masih jauh dari skala industri, kualitas produknya berhasil menarik perhatian. Pengunjung dan pembeli dari berbagai negara, termasuk Malaysia, Nepal, dan bahkan Amerika Serikat, menunjukkan minat besar. Keberhasilan ini mendorong pengembangan produk turunan lain, seperti minyak pijat, sabun herbal yang diperkaya daun kelor lokal, lilin berbasis lilin lebah, dan parfum padat. Setiap produk Lana Tumbavani tidak hanya menawarkan wangi atau fungsi relaksasi, tetapi juga membawa narasi kuat tentang pemulihan lahan dan keterlibatan komunitas Desa Pulu.

Seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk wellness yang berkelanjutan dan etis, tantangan utama bagi Lana Tumbavani adalah bagaimana memasuki pasar yang lebih luas tanpa mengorbankan tujuan awalnya sebagai usaha restoratif. Di sinilah peran pendampingan dari Gampiri Interaksi (GI) menjadi krusial. Melalui program inkubasi GIAT 2.0, Gampiri Interaksi bekerja sama dengan BUMDes Pulu untuk meninjau ulang struktur biaya, kapasitas produksi, strategi harga, dan kesiapan pasar. Fokus pendampingan ini bukan sekadar mengejar volume penjualan, melainkan memastikan bahwa usaha ini tetap sejalan dengan prinsip-prinsip ekonomi restoratif.

“Kami melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas. Kalau salah satu dilepas, model ini runtuh,” tegas Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi. Pernyataan ini menegaskan filosofi di balik Lana Tumbavani: bahwa keberlanjutan ekonomi tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan.

Dari sisi lingkungan, penanaman sereh wangi telah berkontribusi signifikan dalam menstabilkan lahan seluas kurang dari satu hektar yang sebelumnya dianggap tidak produktif. Berdasarkan pengamatan masyarakat setempat, risiko banjir di area tertentu diperkirakan menurun secara nyata.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: