Melawan Kepunahan: Pemuda Sulawesi Selatan Jadi Garda Terdepan Pelestarian Bahasa Makassar di Era Digital

Melawan Kepunahan: Pemuda Sulawesi Selatan Jadi Garda Terdepan Pelestarian Bahasa Makassar di Era Digital
Dari Pelestari Pasif menjadi Pelestari Aktif. (Foto: Geno/intens.id)
Bacakan Artikel
Geno

Artikel terbaru dari Geno (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Program ini bertujuan meningkatkan partisipasi pemuda sebagai agen informasi dalam pemetaan bahasa daerah, pelestarian sastra dan kebahasaan, serta menciptakan metode pelestarian inovatif. Harapannya, bahasa daerah tidak lagi dianggap kuno, melainkan menjadi tren yang membanggakan bagi generasi Z dan generasi Alfa.

Kepala Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Bapak Toha Machsum, M.Ag, dalam sambutannya menekankan pentingnya inisiatif ini.

“Program Pemuda Agen Pelestari Bahasa Daerah merupakan investasi strategis bagi masa depan bahasa daerah di Indonesia. Program ini tidak hanya bertujuan menumbuhkan keterlibatan generasi muda dalam pelindungan dan pemajuan bahasa daerah, tetapi juga menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah merupakan ikhtiar membangun masa depan bangsa yang berpijak pada jati diri dan kekayaan budayanya,” ujarnya.

Beliau berharap generasi muda menjadi penggerak utama yang menghadirkan inovasi, kreativitas, dan ruang-ruang baru agar bahasa daerah tetap hidup, digunakan, dan relevan. Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, lanjutnya, akan terus memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk melahirkan lebih banyak lagi pemuda agen pelestari bahasa daerah. Dalam ekosistem kolaboratif ini, Balai Bahasa memegang peran strategis sebagai validator kebahasaan, memastikan setiap entri, klasifikasi kelas kata, dan contoh kalimat memenuhi kaidah kebahasaan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ita Ibnu, Koordinator Program BASAibu Wiki - Sulsel, menambahkan, Pemuda Agen Pelestari Bahasa Daerah adalah investasi penting untuk masa depan, karena bahasa daerah akan tetap hidup ketika pemuda diberi ruang untuk menggunakannya sebagai alat partisipasi publik, kolaborasi, dan perubahan sosial.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: