Makna Persaudaraan di Tengah 6.000 Umat Katolik Makassar: Meneguhkan Iman, Merawat Keberagaman

Makna Persaudaraan di Tengah 6.000 Umat Katolik Makassar: Meneguhkan Iman, Merawat Keberagaman
Makna Persaudaraan di Tengah 6.000 Umat Katolik Makassar: Meneguhkan Iman, Merawat Keberagaman
Bacakan Artikel

Lebih dari sekadar perayaan seremonial, momentum Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dimaknai sebagai kesempatan untuk meneguhkan iman. Maria, dalam ajaran Katolik, menjadi teladan dalam kesetiaan, ketaatan, kerendahan hati, dan penyerahan diri kepada kehendak Tuhan. Nilai-nilai ini diharapkan dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas.

Erika Tansil, Kabid Humas Panitia Perayaan, menjelaskan bahwa kegiatan ini terwujud berkat kerja sama panitia, yang diketuai oleh anggota DPRD Makassar William Laurin, serta dukungan Pastor Paroki Kristus Raja Andalas. Menurut Erika, perayaan ini memberikan kekuatan bagi umat dalam perjalanan hidup mereka. โ€œHari raya ini memberi kekuatan bagi umat yang sedang berziarah di dunia bahwa kita memiliki masa depan yang mulia bersama Allah. Bunda Maria mengajarkan kesetiaan mengikuti Tuhan, ketaatan total, dan penyerahan diri secara penuh kepada rencana keselamatan,โ€ kata Erika.

Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Makassar RP Derikson Alverius Turnip mengapresiasi perjumpaan ribuan umat yang didasari kecintaan kepada Bunda Maria. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Kongregasi Suster SHMJ yang telah memfasilitasi lokasi perayaan. Derikson turut mengajak umat untuk mendoakan Uskup Agung Makassar Mgr Fransiskus Nipa yang berhalangan hadir karena sakit, serta mengingatkan pentingnya menjaga makna persaudaraan.

Uskup Agung Emeritus Mgr Johannes Liku Adaโ€™ menambahkan, perayaan iman tidak boleh berhenti pada ritual belaka. Ia mengajak umat agar iman tersebut diwujudkan melalui kehadiran yang membawa kebaikan bagi sesama. โ€œPesan penting bagi kita: Maria membawa perhatian dan iman sebagai hadiah terindah. Semoga kehadiran Kristus dalam diri kita senantiasa memancarkan kedamaian bagi dunia,โ€ pesannya.

Perjumpaan sekitar 6.000 umat Katolik dari berbagai paroki ini, sebagaimana ditekankan Mgr Liku Adaโ€™, menjadi gambaran nyata Makassar sebagai kota yang inklusif. Di tengah perbedaan, warga saling mengenal, menghormati, dan menguatkan dalam semangat nasionalisme serta solidaritas. Perayaan ini menegaskan bahwa keberagaman adalah aset yang harus dirawat dan menjadi fondasi bagi kedamaian dan kemajuan kota.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2