Lampu’ Toae: Festival Kritis Melawan Keterpinggiran Budaya Pesisir Kajuara

Lampu’ Toae: Festival Kritis Melawan Keterpinggiran Budaya Pesisir Kajuara
Lampu’ Toae: Festival Kritis Melawan Keterpinggiran Budaya Pesisir Kajuara. -Foto: Ist
Bacakan Artikel

Hj. Andi Murni Al, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, menegaskan bahwa Festival Lampu’ Toae bukan sebatas pertunjukan.

"Yang ingin kita bangun adalah ruang kebudayaan yang tumbuh bersama masyarakat. Kajuara memiliki kekayaan budaya sekaligus pengetahuan yang lahir dari hubungan masyarakat dengan lingkungan dan ruang pesisirnya," ujarnya, menggarisbawahi visi yang melampaui formalitas acara.

Sentimen serupa diungkapkan Ketua Sangdara, Wiwi Wahyuni, yang menekankan pentingnya partisipasi aktif warga.

"Kami ingin Festival Lampu’ Toae lahir dari masyarakat Kajuara. Bukan hanya untuk ditonton, tetapi menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperlihatkan apa yang mereka miliki dan apa yang mereka wariskan," kata Wiwi, menyoroti esensi kolaborasi dan pewarisan pengetahuan.

Kolaborasi dengan Yayasan Pendidikan Lontara Hijau Foundation turut memperluas festival pada aspek pendidikan dan literasi. Hal ini diharapkan mampu menjadikan pengetahuan lokal, tradisi, bahasa, serta pengalaman masyarakat sebagai bagian dari proses pewarisan kebudayaan antargenerasi yang terstruktur.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: