Intimidasi di Tengah Aksi: Warga Lakkang Ca'di Klaim Dibubarkan Oknum TNI dan Preman di Depan AAS Building

Intimidasi di Tengah Aksi: Warga Lakkang Ca'di Klaim Dibubarkan Oknum TNI dan Preman di Depan AAS Building
Konflik Agraria Lakkang Ca'di Memanas: Aksi Warga di Depan AAS Building Diduga Dibubarkan Paksa Oknum Aparat - Foto; Ist
Bacakan Artikel

Intens.id, - Eskalasi konflik agraria di Lakkang Ca'di, Makassar, mencapai titik kritis. Aksi damai Aliansi Lakkang Bersatu (ALB) dan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Makassar di depan AAS Building, Jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Jumat (7/8/2026), diduga dibubarkan paksa. Massa mengklaim pembubaran dilakukan oleh oknum yang diidentifikasi sebagai anggota TNI dan sekelompok preman, memicu ketegangan dan adu mulut di tengah desakan klarifikasi dugaan keterlibatan AAS Building dalam sengketa lahan yang merugikan warga.

Aksi unjuk rasa ini merupakan yang ketiga kalinya digelar di lokasi tersebut, menyoroti dugaan kuat keterlibatan AAS Building dalam sengketa lahan di Lakkang Ca'di. Di bawah pengawalan aparat kepolisian, massa membentangkan spanduk, menyampaikan orasi kritis, serta membagikan selebaran kepada pengguna jalan. Mereka menuntut pihak AAS Building memberikan penjelasan transparan terkait peran mereka dalam konflik agraria yang telah lama membelit kehidupan masyarakat lokal.

Namun, di tengah jalannya aksi, situasi mendadak memanas. Massa peserta aksi mengaku dibubarkan oleh sekelompok orang tak dikenal. Mereka dengan tegas menuding adanya sejumlah oknum yang diidentifikasi sebagai anggota TNI serta kelompok yang mereka sebut sebagai preman di lokasi. Tuduhan ini memicu adu mulut sengit antara massa aksi dengan kelompok tersebut, yang mengakibatkan aksi terhenti untuk beberapa saat. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari institusi TNI maupun pihak terkait mengenai tudingan serius tersebut.

Klaim pembubaran ini mempertegas kekhawatiran warga Lakkang Ca'di akan adanya bentuk intimidasi dan perampasan ruang hidup mereka. "Kalau memang tidak ada hubungan, mengapa setiap aksi di depan AAS Building selalu ada pihak penggugat yang datang membubarkan aksi kami. Sekarang bahkan menurut kami ada keterlibatan oknum dan kelompok tertentu yang membuat warga semakin bertanya-tanya," ujar Juliati, salah seorang warga yang lahannya menjadi objek sengketa, dengan nada prihatin.

Meskipun diwarnai ketegangan, massa akhirnya berhasil memperoleh tanggapan langsung dari pihak AAS Building. Anwar, yang oleh warga diidentifikasi sebagai perwakilan yang kerap mendatangi Lakkang Ca'di untuk menawarkan pembelian lahan, memberikan respons singkat. "Tidak apa-apa, tidak ada masalah. Kalau barang (tanah) mau dijual, ya dijual," katanya, seolah menganggap persoalan ini hanya sebatas transaksi jual beli biasa.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2