FPM Sulsel Kritisi Festival Pinisi Bulukumba, Andi Fatahuddin: Mana Ruang untuk Talenta Daerah?

FPM Sulsel Kritisi Festival Pinisi Bulukumba, Andi Fatahuddin: Mana Ruang untuk Talenta Daerah?
Andi Fatahuddin, - Foto: Pribadi
Bacakan Artikel
Syahrul

Petani muda yang bergiat di isu lingkungan hidup dan politik, aktif menyampaikan gagasan dan advokasi publik melalui karya tulis.

Andi Fatahuddin, yang aktif mengawal isu kepemudaan, lingkungan, dan pergerakan Karang Taruna, menggarisbawahi bahwa ketidakberdayaan musisi daerah bukan disebabkan oleh minimnya kualitas. Banyak grup musik lokal, penyanyi solo, hingga sanggar seni tradisional di Bulukumba memiliki rekam jejak karya dan performa panggung yang tidak kalah bersaing. Namun, hambatan utamanya terletak pada akses keterbukaan dan keberpihakan kebijakan dari pihak penyelenggara.

Isu ini tidak sekadar berputar pada persoalan kebanggaan kedaerahan, melainkan beririsan langsung dengan putaran roda ekonomi kreatif. Alokasi anggaran festival yang besar seyogianya memberikan dampak multiplier bagi para pelaku seni lokal. Ketika honorium dan panggung utama dialokasikan secara dominan ke pihak luar daerah, potensi kapital yang seharusnya berputar di dalam ekosistem kesenian Bulukumba ikut mengalir keluar.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Andi mendesak adanya formulasi aturan yang jelas terkait standar keterlibatan pengisi acara pada perhelatan mendatang.

"Bagaimana ekonomi kreatif mau tumbuh kalau panggung terbesar di daerah sendiri tidak memberikan ruang? Festival Pinisi harusnya punya regulasi yang jelas, minimal 60 persen pengisi acara adalah artis lokal Bulukumba. Jangan semua anggaran lari ke luar," terangnya.

Penerapan kuota atau batas minimal penampilan seniman lokal dinilai sebagai langkah afirmatif yang krusial. Kebijakan ini dapat menjamin proteksi sekaligus memberi garansi ruang ekspresi bagi para kreator daerah di tengah gempuran tren hiburan arus utama.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: