Amarah di Ujung Agustus: Melawan atau Merusak?

Akhir Agustus 2025 menjadi saksi kelabu negeri ini. Bukan hanya langit yang muram, tetapijuga jalanan yang dipenuhi asap dari fasilitas publik dan gedung pemerintahan yang terbakar. Ruang-ruang yang s...

Amarah di Ujung Agustus: Melawan atau Merusak?
Bacakan Artikel

Eskalasi Digital dan Penunggang Gelap

Demonstrasi yang awalnya sah dan damai berubah menjadi ricuh setelah korban sipilberjatuhan akibat tindakan represif. Di era digital, video kekerasan menyebar secepat kilat, memperkuat amarah tanpa ruang jeda. Pernyataan arogan seorang wakil rakyat yang viral hanya memperparah keadaan.

Namun, Kohati Surabaya melihat adanya pihak-pihak gelap yang menunggangi situasi. Mereka bukan sekadar provokator jalanan, melainkan aktor sistematis: kelompok politik yang ingin mendelegitimasi pemerintah, jaringan anarko-kriminal, atau bahkan kepentingankorporasi. Mereka menyusup, memantik api, lalu pergi, meninggalkan demonstran sejatimenanggung stigma anarkis.

Kalkulasi Pahit Pasca-Anarki

Di titik inilah akal sehat harus mengambil peran. Jika anarkisme terus berlanjut, siapa yang menanggung kerugian? Jawabannya: rakyat sendiri, terutama perempuan, anak, dan kelompok rentan.

Fasilitas publik yang terbakar harus dibangun kembali dengan biaya triliunan dari APBNโ€”uang yang seharusnya untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat. Pilihanpemerintah pun makin sulit: menambah utang luar negeri atau mencetak uang. Opsi terakhirhanya akan memicu hiperinflasi, membuat harga-harga meroket dan rakyat semakinterhimpit.

Seruan Introspeksi dan Arah Perjuangan

Menghadapi kompleksitas ini, Kohati Surabaya menyerukan introspeksi nasional. Perjuanganmenuntut keadilan tidak boleh berakhir pada kehancuran. Amarah harus diubah menjadienergi jangka panjang, bukan ledakan sesaat yang merugikan diri sendiri.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: