Aksi Penanaman Mangrove Diwarnai Penolakan Tegas Terhadap Reklamasi Pesisir Lantebung-Untia

Aksi Penanaman Mangrove Diwarnai Penolakan Tegas Terhadap Reklamasi Pesisir Lantebung-Untia
Bacakan Artikel

Intens.idMakassar – Ratusan warga bersama Green Youth Celebes (GREYS) dan sejumlah organisasi masyarakat sipil serta komunitas peduli lingkungan menyuarakan penolakan tegas terhadap rencana reklamasi pesisir di kawasan Lantebung-Untia, Kota Makassar. Aksi protes ini diwujudkan melalui kegiatan penanaman 1.000 bibit mangrove di area tersebut pada Sabtu (27/6), sekaligus membentangkan spanduk bertuliskan pesan-pesan penolakan yang kuat, menegaskan sikap "Makassar Tolak Reklamasi, Lindungi Nelayan & Perempuan Pesisir, Jaga Mangrove Lantebung-Untia."

    Rencana reklamasi yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan ini digadang-gadang akan meliputi area seluas 728,43 hektare, sebuah angka yang signifikan dan berpotensi mengubah lanskap pesisir Makassar secara drastis.

    Kawasan Lantebung-Untia, yang menjadi target reklamasi, selama ini dikenal sebagai ekosistem hutan mangrove yang subur dan vital. Lebih dari sekadar bentang alam, area ini juga merupakan wilayah tangkap utama bagi nelayan lokal, menopang kehidupan ribuan jiwa yang bergantung pada sumber daya laut dan pesisir.

    Secara ekologis, hutan mangrove Lantebung-Untia memiliki fungsi yang tak tergantikan dan krusial bagi keberlanjutan lingkungan. Mangrove bertindak sebagai pelindung alami pesisir dari ancaman abrasi dan intrusi air laut yang kian masif akibat perubahan iklim, sekaligus menjadi penyerap karbon dioksida yang efektif, berkontribusi pada mitigasi krisis iklim global.

    Lingkungan unik ini juga adalah habitat penting bagi beragam biota laut, mulai dari ikan, kepiting, udang, hingga berbagai jenis burung pesisir yang menggantungkan hidupnya di sana. Keberadaan mangrove ini tidak hanya menjaga keseimbangan alam, tetapi juga merupakan jantung kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir, menyediakan hasil laut yang menjadi sumber pangan dan penghidupan secara turun-temurun.

    Lanjut ke Halaman 2
    Pilih Halaman: