"Yang Kita Tinggalkan Bukan Gelar, Melainkan Generasi", Pesan Prof. Widya dalam Orasi Pengukuhan Guru Besar di UNM

"Yang Kita Tinggalkan Bukan Gelar, Melainkan Generasi", Pesan Prof. Widya dalam Orasi Pengukuhan Guru Besar di UNM
Prof. Dr. Widya Karmila Sari Achmad, S.Pd., M.Pd. dikukuhkan sebagai Profesor Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial Sekolah Dasar. (Foto: Labs TP FIP UNM)
Bacakan Artikel
Muhammad Riszky

Seorang guru BK pada salah satu SMK di Makassar dan juga aktif menyuarakan isu lingkungan dengan bergabung dalam Sekretariat Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia.

Intens.id, Di bawah langit Makassar yang cerah pada Kamis, 30 Juli 2026, suasana di Universitas Negeri Makassar (UNM) terasa berbeda. Di gedung yang menjadi simbol pencapaian intelektual itu, seorang perempuan dengan gurat keteguhan dan kelembutan di wajahnya berdiri di mimbar kehormatan. Prof. Dr. Widya Karmila Sari Achmad, S.Pd., M.Pd., tengah bersiap menyampaikan orasi ilmiah yang bukan sekadar deretan teori, melainkan sebuah manifesto tentang masa depan pendidikan dasar di Indonesia.

Mengenakan toga kebesaran, Prof. Widya mengawali langkahnya dengan sebuah kesadaran mendalam bahwa gelar Guru Besar bukanlah sekadar mahkota akademik.

"Jabatan ini adalah amanah intelektual sekaligus tanggung jawab moral yang justru semakin mempertajam integritas akademik seorang pendidik," ucapnya dengan nada yang tenang di hadapan Senat Terbuka Luar Biasa UNM.

Selama lebih dari 21 tahun, ia telah menyusuri lorong-lorong sekolah dasar, berdialog dengan guru di pelosok, dan meneliti ribuan data. Perjalanan itu membawanya pada satu kesimpulan besar bahwa pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah dasar sedang berada di persimpangan kritis yang menentukan.

Krisis di Ruang Kelas

Narasi Prof. Widya bermula dari keprihatinan yang mendalam. Ia memaparkan data yang menyesakkan dada. Hasil survei PISA 2022 menunjukkan posisi Indonesia yang masih tertinggal dalam literasi membaca, numerasi, dan sains. Namun, bagi Prof. Widya, ada krisis yang lebih senyap namun mematikan: krisis karakter dan hilangnya makna dalam belajar.

"Pembelajaran IPS di sekolah dasar kita selama ini masih terjebak dalam paradigma yang bersifat transmisif; guru menyampaikan fakta, siswa menerima dan menghafalkan," tuturnya.

IPS, yang seharusnya menjadi jendela pertama bagi anak-anak untuk mengenal diri dan dunianya, justru sering kali berubah menjadi beban hafalan nama, tanggal, dan definisi yang kering. Lebih mengkhawatirkan lagi, ia menyoroti peningkatan angka intoleransi dan memudarnya semangat gotong royong di kalangan generasi muda.

"Identitas kultural peserta didik kita semakin tergerus oleh dominasi budaya populer global yang kerap bertentangan dengan nilai-nilai luhur budaya Nusantara," jelasnya. Di sinilah, Prof. Widya menawarkan sebuah kompas baru yang ia sebut sebagai Pedagogi Sosial Transformatif (PST).

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: