Puluhan Titik Panas Karhutla Terdeteksi di Papua Barat, Ribuan Hektare Lahan Terbakar

Provinsi Papua Barat menghadapi ancaman serius dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan deteksi 36 titik panas dan luas area terbakar yang mencapai ribuan hektare, mendorong respons terpadu dari berbagai instansi.

Puluhan Titik Panas Karhutla Terdeteksi di Papua Barat, Ribuan Hektare Lahan Terbakar
Puluhan Titik Panas Karhutla Terdeteksi di Papua Barat, Ribuan Hektare Lahan Terbakar. Foto: Ishak Andi Kunna
Bacakan Artikel

Berton SP Panjaitan menjelaskan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan untuk memastikan efektivitas operasi. Pengerahan fasilitas pemadaman juga ditingkatkan dengan tujuan menghentikan laju kebakaran secepat mungkin dan memperkuat kesiapsiagaan di wilayah-wilayah Papua Barat lainnya yang berpotensi terdampak.

Langkah-langkah operasional secara khusus ditingkatkan di Kabupaten Teluk Bintuni, yang dilaporkan oleh BPBD Provinsi Papua Barat sebagai daerah dengan luasan area terbakar tertinggi kedua di tingkat provinsi. Selain Teluk Bintuni, karhutla juga terdeteksi di Kabupaten Fakfak, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak, menunjukkan cakupan bencana yang cukup luas. Bencana karhutla di Teluk Bintuni ini telah terdeteksi sejak 22 Agustus 2026, dan sejak saat itu, upaya pemadaman terus dilakukan secara intensif.

Operasi Pemadaman Udara di Teluk Bintuni

Salah satu strategi utama dalam penanganan karhutla di Teluk Bintuni adalah pengerahan helikopter water bombing jenis AS350B3e dengan registrasi PK-DBM. Armada udara ini telah memainkan peran krusial dalam upaya pemadaman, dengan melakukan 69 kali tumpahan air yang totalnya mencapai 69 ribu liter. Misi utama helikopter ini adalah mengamankan kawasan di sekitar fasilitas kilang gas alam cair Tangguh LNG, yang merupakan objek vital nasional di wilayah tersebut.

Namun, operasi pemadaman di Teluk Bintuni menghadapi tantangan signifikan. Area yang terbakar meliputi hutan lebat dengan pepohonan tinggi dan kerapatan tutupan vegetasi yang padat.

Kondisi geografis ini menyulitkan siraman air dari udara untuk mencapai permukaan tanah secara langsung, sehingga efektivitas pemadaman menjadi terhambat. Meskipun demikian, strategi penyiraman udara tersebut setidaknya mampu membasahi vegetasi di lapisan atas, yang berfungsi untuk menghambat perambatan kobaran api dan mencegahnya meluas dengan cepat.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: