Menguak Tabir Danau Matano: Dari Kiblat Industri Besi Purba hingga Jejak Peradaban Awal Nusantara

Menguak Tabir Danau Matano: Dari Kiblat Industri Besi Purba hingga Jejak Peradaban Awal Nusantara
Seminar Nasional Matano 2026: Sinergi Akademisi dan Adat Ungkap Sejarah Emas Indonesia Timur
Bacakan Artikel

Peneliti Arkeologi Bawah Air, Dr. Shinatria Adhiyatama, membawa peserta menyelami misteri dasar Danau Matano—sebuah danau purba terdalam di Asia Tenggara. Hasil ekskavasi bawah air yang cermat berhasil menemukan berbagai artefak berharga, mulai dari tembikar utuh, pecahan keramik dari berbagai periode, hingga benda-benda logam yang menunjukkan keahlian metalurgi.

Menurut Shinatria, temuan-temuan ini secara kuat mengonfirmasi adanya aktivitas manufaktur logam yang masif di Matano pada masa lampau. Letak artefak yang kini berada di dasar danau diduga kuat dipengaruhi oleh aktivitas tektonik yang sempat mengubah bentang alam kawasan tersebut di masa lalu, menenggelamkan beberapa situs peradaban awal.

Kejutan 16 Ribu Arsip Digital dari Benua Eropa

Sesi yang paling mencuri perhatian peserta adalah presentasi dari Sharon T., seorang penggerak sejarah dan budaya Matano dari YWRM. Mengusung filosofi "Arsip adalah Brankas Masa Lalu untuk Menata Masa Depan", Sharon membeberkan hasil perburuan arsip yang dilakukan tim YWRM secara gigih sejak tahun 2019 hingga 2025. Hasilnya sungguh luar biasa: tim berhasil menghimpun sekitar 16.000 file digital yang terbagi dalam 450 folder dokumen.

Dokumen-dokumen otentik tersebut dilacak dari berbagai lembaga prestisius, baik di dalam maupun luar negeri, termasuk Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, koleksi komunitas adat, hingga Perpustakaan Universitas Leiden dan Wereld Museum di Belanda.

Di hadapan peserta, Sharon menampilkan bukti visual berupa foto-foto asli kawasan Malili dan Matano periode 1905–1908, lanskap Kampung Timampu dan Wasuponda, rumah-rumah tradisional, hingga dokumentasi proyek pembukaan jalan menuju Sorowako pada awal abad ke-20.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: