Masa Depan Pinisi di Tangan Riset: Kolaborasi Unhas-Bapperida Perkuat Pelestarian Warisan Maritim

Masa Depan Pinisi di Tangan Riset: Kolaborasi Unhas-Bapperida Perkuat Pelestarian Warisan Maritim
Diseminasi Penelitian FISIP Unhas Hadirkan Rekomendasi Kebijakan di Bulukumba. (Foto: Ist)
Bacakan Artikel

Selanjutnya, Dr. Ishak Salim, S.IP., M.A., mempresentasikan hasil penelitiannya mengenai tantangan pelestarian Pinisi dari perspektif jaringan aktor dalam kebijakan. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi empat tantangan utama yang saling terkait: komodifikasi budaya yang mengikis nilai-nilai asli, ketimpangan relasi kekuasaan antaraktor dalam ekosistem Pinisi, fragmentasi jaringan kelembagaan yang menghambat koordinasi, serta krisis ketersediaan bahan baku kayu yang menjadi tulang punggung pembuatan Pinisi.

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian Dr. Ishak Salim merekomendasikan beberapa strategi konkret. Rekomendasi tersebut meliputi pembentukan asosiasi pekerja Pinisi yang kuat, penyusunan kontrak kerja yang mampu melindungi pekerja sekaligus nilai-nilai budaya, penguatan tata kelola pemanfaatan kayu yang transparan dan berkelanjutan, dokumentasi pengetahuan lokal yang terstruktur, serta pengembangan pariwisata berbasis komunitas sebagai strategi menjaga keberlanjutan budaya maritim secara holistik.

Sesi diskusi yang berlangsung setelah presentasi menjadi sangat dinamis, menghadirkan berbagai perspektif dari para peserta. Mereka terdiri atas unsur pemerintah daerah, akademisi, penggiat pelestarian Pinisi, termasuk Horst Liebner yang merupakan pakar Pinisi, para panrita lopi (pembuat kapal tradisional), tokoh pemuda, serta perwakilan Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, dan Desa Bira yang merupakan pusat pembuatan Pinisi.

Beragam masukan yang disampaikan tidak hanya memperkaya hasil penelitian, tetapi juga mempertegas pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem budaya Pinisi. Tanggapan konstruktif dari forum ini juga menekankan pentingnya tindak lanjut atas hasil penelitian, baik melalui pengembangan riset yang lebih mendalam maupun melalui komitmen Pemerintah Kabupaten Bulukumba dalam merumuskan kebijakan yang mampu menjawab berbagai tantangan pelestarian Pinisi secara efektif dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan diseminasi ini, Departemen Ilmu Administrasi FISIP Universitas Hasanuddin bersama Bapperida Kabupaten Bulukumba berharap besar bahwa hasil penelitian ini tidak akan berhenti sebagai luaran akademik semata. Lebih dari itu, diharapkan dapat menjadi landasan kuat dalam penyusunan kebijakan publik yang berbasis bukti, serta memperkuat kolaborasi sinergis antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat luas. Kolaborasi ini esensial dalam menjaga keberlanjutan Pinisi sebagai warisan budaya maritim yang tak ternilai, yang memiliki nilai historis, sosial, ekonomi, dan budaya yang mendalam bagi bangsa Indonesia dan dunia.

Pilih Halaman: