Kisah Rakyat Bulukumba Hidup Kembali, Antar Siswi SD 58 Tanete Juarai Lomba Bertutur
Cerita rakyat Bulukumba kembali mencuri perhatian di panggung literasi. Lewat kisah Asal Muasal Bonto Bulaeng yang diadaptasi dari buku Samindara: Antologi Cerita Rakyat dari Bumi Panritalopi, siswi SD 58 Tanete, Andi Mutiara Ramadhanti, meraih Juara 1 Lomba Bertutur tingkat Kecamatan Bulukumpa dan melaju ke tingkat Kabupaten Bulukumba. Di balik kemenangan itu, tersimpan kisah estafet prestasi, dari buku, guru, hingga siswa yang saling menginspirasi.
Intens.id, Bulukumba - Suara Andi Mutiara Ramadhanti mula-mula terdengar lembut, mengalun perlahan di tengah aula SD 58 Tanete. Puluhan pasang mata juri dan hadirin tertuju padanya. Beberapa detik kemudian, atmosfer ruangan mendadak berubah.
Tangan kanan Andi bergerak dinamis mengikuti alur cerita. Tatapannya tajam menatap juri, lalu beralih ke sudut-sudut ruangan. Ia tahu kapan harus memperlambat tempo, dan kapan harus meninggikan intonasi untuk menegaskan konflik.
Aula yang tadinya bising oleh kasak-kusuk, perlahan-lahan senyap. Larut dalam pesona sang penutur.
Pada Rabu (10/6/2026), siswi kelas 4 SD 58 Tanete ini tidak sekadar sedang berkompetisi dalam Lomba Bertutur tingkat SD se-Kecamatan Bulukumpa. Lebih dari itu, ia sedang mengembuskan napas baru pada kisah lama yang mulai berdebu: "Asal Muasal Bonto Bulaeng".
Kisah legendaris tersebut merupakan salah satu mutiara lokal yang termaktub dalam buku "Samindara: Antologi Cerita Rakyat dari Bumi Panritalopi" karya Alfian Nawawi (Bukunesia, 2025). Berkat penghayatan yang memukau, Andi sukses menyabet Juara 1 sekaligus mengamankan tiket untuk mewakili Kecamatan Bulukumpa di tingkat Kabupaten Bulukumba.
Menghidupkan Jiwa Cerita, Bukan Sekadar Menghafal
Bagi Andi, panggung bertutur bukan tempat untuk sekadar mengeja hafalan naskah. Selama berminggu-minggu, ia melatih diri untuk menyelami karakter, suasana, dan pesan moral tentang kebijaksanaan serta hubungan manusia dengan alam yang tersirat dalam legenda Bonto Bulaeng.
"Saya berusaha memahami ceritanya terlebih dahulu sebelum menghafalnya. Kalau sudah memahami isi cerita, lebih mudah membawakannya dengan ekspresi dan perasaan," ungkap Andi polos namun sarat visi.
Di balik layar, ada sentuhan dingin dari sang guru pembimbing, Nurfitriani Yunus. Ia menekankan bahwa kunci utama bertutur adalah bagaimana membawa pendengar ikut "masuk" ke dalam dimensi cerita.
"Kami melatih intonasi, ekspresi wajah, gerak tubuh, hingga bagaimana membangun suasana. Yang membuat Andi menonjol adalah kemamuannya menangkap emosi cerita secara alami," puji Nurfitriani.
Estafet Inspirasi: Dari Ahmad Dihyah untuk Andi Mutiara
Menariknya, kemenangan Andi bukanlah sebuah kebetulan tunggal. Ada cerita "estafet prestasi" yang manis di balik layar.
Tahun lalu (2025), prestasi serupa ditorehkan oleh kakak kelasnya, Ahmad Dihyah Afian. Menggunakan buku panduan yang sama—Samindara—Dihyah sukses meraih Juara 2 Lomba Bertutur tingkat Kabupaten lewat kisah "Asal Muasal Sungai Balangtieng". Dihyah bahkan mencatatkan namanya di posisi 5 besar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat untuk kategori Dongeng Bahasa Bugis.
Menjelang lomba tahun ini, Dihyah turun tangan langsung menggembleng mental sang adik kelas. Ia berbagi trik mengatasi demam panggung, mengatur napas, hingga menjaga kontak mata dengan audiens.
"Saya selalu bilang ke Andi supaya jangan terlalu fokus menghafal. Yang paling penting itu paham ceritanya, supaya penyampaiannya natural," tiru Dihyah. Kehadiran Dihyah terbukti menjadi suntikan moral yang luar biasa bagi kepercayaan diri Andi.
Merawat Identitas Budaya Sejak Dini
Keberhasilan SD 58 Tanete menembus kompetisi daerah secara konsisten menujukkan komitmen sekolah yang kuat dalam literasi. Kepala SD 58 Tanete, Nasrul, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa cerita rakyat adalah media terbaik untuk mempertemukan anak-anak dengan akar budayanya sendiri.
"Kami melihat cerita rakyat Bulukumba bukan hanya sebagai bahan lomba, tetapi sebagai sarana membangun kecintaan terhadap budaya dan literasi sejak dini," jelas Nasrul.
Sore itu, sekeping trofi juara memang berada di dekap erat Andi Mutiara. Namun, kemenangan sejati yang dirayakan di SD 58 Tanete jauh lebih besar dari itu.
Ini adalah kemenangan tentang sebuah buku yang kembali menemukan pembacanya; tentang cerita rakyat Bulukumba yang kembali menemukan penuturnya; dan tentang generasi muda yang berdiri tegak di atas panggung demi memastikan kisah-kisah leluhur mereka tidak terkubur oleh zaman.