Ketika Padi Lokal Pergi, Ritual dan Cara Memandang Alam Ikut Bergeser

Ketika Padi Lokal Pergi, Ritual dan Cara Memandang Alam Ikut Bergeser
Ketika Padi Lokal Pergi, Ritual dan Cara Memandang Alam Ikut Bergeser. (Foto: Pexels.com)
Bacakan Artikel

“Ketika manusia kehilangan rasa keterhubungan dengan alam, alam hanya akan dipandang sebagai objek. Ketika alam hanya dilihat sebagai supply untuk kebutuhan manusia, maka eksploitasi dan destruksi menjadi sesuatu yang dianggap wajar,” ujarnya, memperingatkan akan konsekuensi fatal dari pandangan tersebut.

WGII menilai, warisan biokultural ini sangat rentan hilang. Ancaman yang ada bukan hanya pada spesies, hutan, atau sumber pangan lokal, melainkan juga pada seluruh relasi yang membuat manusia dan alam saling terhubung dalam sebuah ekosistem budaya yang utuh.

“Biokultural ini lebih rentan hilang daripada biodiversitas. Karena yang terancam bukan hanya spesies atau hutan, melainkan seluruh relasi yang membuat spesies, hutan, manusia, bahasa, ritual, dan pengetahuan tersebut saling terhubung,” Cindy menekankan, menyoroti urgensi perlindungan yang lebih komprehensif.

Menjelang Konferensi PBB untuk Keanekaragaman Hayati atau CBD COP17 di Yerevan, Armenia, pada Oktober 2026, WGII menilai bahwa perlindungan wilayah kelola masyarakat adat dan komunitas lokal perlu dilihat dari perspektif yang lebih luas. Dengan lebih dari satu juta hektare wilayah ICCAs (Indigenous Peoples and Local Community Conserved Territories and Areas) yang telah didokumentasikan oleh WGII, hal ini menjadi bukti nyata bahwa pengetahuan tradisional dalam menjaga alam masih hidup dan dipraktikkan di berbagai wilayah Indonesia.

Oleh karena itu, perlindungan tersebut bukan hanya soal menjaga kawasan, hutan, atau spesies tertentu, tetapi juga menjaga pengetahuan, ritual, bahasa, dan praktik hidup yang telah tumbuh bersama alam selama ribuan tahun. Tantangan hari ini bukan sekadar menyelamatkan hutan dan spesies dari kepunahan fisik. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga pengetahuan yang hidup dan terus berevolusi bersamanya. Karena, ketika satu padi lokal hilang, yang hilang bukan sekadar tanaman dari ladang. Ritual, ingatan kolektif, dan bahkan cara masyarakat memandang serta berinteraksi dengan alam juga ikut menghilang, meninggalkan kekosongan yang tak tergantikan.

Pilih Halaman: