Ketika Anak Bertemu Dunia yang Tidak Selalu Aman

Oleh: Rika Arlianti DM

Ketika Anak Bertemu Dunia yang Tidak Selalu Aman
ilustrasi by AI
Bacakan Artikel
Rika Arlianti DM

Penulis, Pegiat Isu Pendidikan dan Anak

Namun, sering kali anak belum memiliki pengalaman hidup yang cukup untuk mengenali kapan perhatian berubah menjadi manipulasi. Di sinilah saya merasa bahwa tugas orang dewasa bukan sekadar berkata, "Jangan bertemu orang dari media sosial".

Bukan hanya, "Jangan pacaran!" Bukan pula, "Jangan percaya siapa pun!".

Sebab anak membutuhkan sesuatu yang jauh lebih penting, yakni kemampuan untuk memahami batas dirinya dan keberanian untuk mencari pertolongan ketika sesuatu terasa tidak benar.

Anak perlu tahu bahwa mengatakan tidak bukan berarti tidak sopan. Bahwa seseorang yang marah karena permintaannya ditolak bukan berarti anak harus merasa bersalah. Bahwa perhatian tidak selalu berarti kasih sayang. Bahwa hadiah, rayuan, ajakan, atau kata-kata manis tidak pernah membuat seseorang berhak melanggar batas dirinya.

Tidak kalah penting,ย jika sesuatu terjadi pada dirinya, ia harus tahu ke mana harus pulang. Pulang bukan hanya dalam arti rumah. Tetapi kepada orang dewasa yang akan mendengarkan tanpa langsung menghakimi.

Sebab terkadang yang membuat seorang anak diam bukan karena ia tidak tahu bahwa sesuatu itu salah. Bisa jadi ia takut. Takut dimarahi, disalahkan. Takut orang tuanya kecewa, takut tidak dipercaya, atau takut setelah bercerita, hidupnya justru menjadi semakin rumit.

Karena itu, menjadi orang tua bukan hanya tentang mengetahui anak pergi ke mana. Bukan sekadar memantau isi handphone-nya, bukan hanya mengetahui dengan siapa ia berteman.

Lebih dari itu,ย menjadi orang tua adalah memastikan bahwa ketika anak berada dalam masalah, orang pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah kita.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: