Intens.id Versi penuh
News

JK Soroti Peran Teknologi dalam Ketahanan Iran Hadapi AS-Israel, Dorong Kemajuan Islam

Oleh Redaksi Intens.id 25 Jun 2026 21:08 4 menit baca

Intens.id, Jakarta - Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), menegaskan bahwa kemampuan Iran dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel merupakan bukti nyata betapa krusialnya penguasaan teknologi bagi kemajuan dan ketahanan negara-negara Islam.

Pernyataan ini disampaikan JK saat menjadi pembicara kunci dalam acara International Seminar and The 15th Annual General Meeting yang bertajuk “Transforming Islamic Higher Education for Advancing Global Peace, Resilience, and Inclusive Development” di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, pada Rabu (24/6/2026).

Dalam pandangan JK, konflik yang melibatkan Iran menjadi sebuah studi kasus penting untuk mencermati tantangan perdamaian dan kepemimpinan di dunia Islam saat ini. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap kapabilitas Iran yang dinilai mengejutkan banyak pihak.

"Iran mengejutkan dunia. Tidak ada yang menyangka mereka memiliki kemampuan teknologi yang mampu membuat negara itu bertahan menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel," ujar JK, menggarisbawahi kekuatan tersembunyi yang dimiliki Teheran.

Lebih lanjut, JK menganalisis bahwa kekuatan utama Iran bukan semata-mata terletak pada jumlah atau jenis persenjataan yang dimiliki, melainkan pada kemajuan teknologi yang telah mereka kembangkan secara konsisten selama bertahun-tahun. Menurutnya, inovasi dan penguasaan teknologi, dipadukan dengan semangat juang, menjadi faktor penentu.

"Yang memenangkan adalah teknologi dan semangat. Karena itu, jika negara-negara Islam ingin maju, harus menguasai teknologi. Agama dan ilmu pengetahuan harus berjalan seimbang," tegasnya, menekankan pentingnya sinergi antara nilai spiritual dan kemajuan ilmiah.

JK juga menyoroti kondisi geopolitik di sebagian besar negara Islam yang masih berkutat dalam berbagai konflik, baik internal maupun eksternal. Ia menyebutkan contoh-contoh seperti Perang Iran-Irak, konflik di Yaman, Sudan, Suriah, hingga ketegangan yang berulang antara Pakistan dan Afghanistan. Situasi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa kepemimpinan Islam dalam upaya membangun perdamaian menghadapi tantangan besar, mengingat banyaknya negara Islam yang justru masih terperangkap dalam perselisihan berkepanjangan.

"Bagaimana berbicara tentang kepemimpinan Islam untuk perdamaian jika banyak negara Islam masih berkonflik? Ini menjadi tantangan yang harus dijawab bersama," kritiknya.

Mantan orang nomor dua di Indonesia itu juga menyoroti minimnya dukungan yang diberikan oleh negara-negara Islam lainnya kepada Iran saat menghadapi tekanan dari dua kekuatan besar, Amerika Serikat dan Israel. Fenomena ini, kata JK, membuka mata terhadap kompleksitas hubungan politik dan dinamika kekuatan di kawasan Timur Tengah.

"Ketika Amerika menyerang Iran, hampir tidak ada negara Islam lain yang membantu Iran. Ini menunjukkan kompleksitas hubungan politik di kawasan Timur Tengah," tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, JK menegaskan bahwa kemajuan dunia Islam tidak akan tercapai hanya dengan mengandalkan semangat keagamaan semata. Ia menekankan bahwa kemajuan harus ditopang oleh fondasi yang kuat dalam penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kemampuan ekonomi yang solid. Ia bahkan mencontohkan tradisi keilmuan Persia di masa lalu yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina dan banyak ilmuwan Muslim lainnya, yang menjadi pilar utama kemajuan peradaban Islam.

"Ilmu pengetahuan adalah budaya yang membuat suatu bangsa kuat. Tanpa teknologi dan ilmu pengetahuan, kemajuan tidak mungkin dicapai," pungkasnya.

Selain membahas isu konflik Iran dan pentingnya teknologi, JK turut mengulas berbagai upaya perdamaian yang pernah ia lakukan, mulai dari penyelesaian konflik domestik seperti di Aceh, Poso, dan Ambon, hingga keterlibatannya dalam proses perdamaian di Afghanistan dan konflik di Thailand Selatan. Berdasarkan pengalamannya yang luas, JK menguraikan bahwa syarat utama untuk menjadi seorang pemimpin perdamaian adalah memiliki sikap netral, kemampuan untuk memahami akar persoalan secara mendalam, serta keberanian untuk menawarkan solusi yang adil dan menguntungkan semua pihak.

"Kalau ingin menjadi pemimpin perdamaian, harus netral, memahami masalahnya dengan baik, dan memiliki keberanian untuk menawarkan jalan keluar yang bisa diterima semua pihak," tuturnya.

Mengakhiri paparannya, Jusuf Kalla menyampaikan harapannya agar perguruan tinggi Islam dapat mengambil peran sentral sebagai motor penggerak pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, lembaga pendidikan tinggi Islam diharapkan mampu memperkuat nilai-nilai Islam moderat yang toleran dan inklusif, sehingga dapat berkontribusi secara signifikan bagi terciptanya perdamaian dunia.

"Jika ingin menjadi pemimpin dalam perdamaian, negara harus maju, dihargai, netral, dan memiliki kemampuan memahami masalah secara mendalam," tutup JK, memberikan pesan inspiratif bagi seluruh hadirin.(*)