Fragmentasi Rantai Pasok Dunia di Era Ketidakpastian Geopolitik, Deglobalisasi atau Reglobalisasi?

Fragmentasi Rantai Pasok Dunia di Era Ketidakpastian Geopolitik, Deglobalisasi atau Reglobalisasi?
Fragmentasi Rantai Pasok Dunia di Era Ketidakpastian Geopolitik, Deglobalisasi atau Reglobalisasi? = Foto: Ilustrasi Rantai Pasok/Binus
Bacakan Artikel

Intens.id, - Selama lebih dari tiga dekade, narasi besar ekonomi dunia didominasi oleh gagasan bumi yang mendatar. Sebuah cip semikonduktor yang didesain di California, diproduksi di Taiwan, diuji di Malaysia, dan dirakit menjadi gawai pintar di Tiongkok untuk kemudian dijual di pasar Eropa adalah potret sempurna dari integrasi global yang mulus.

Namun, lanskap ideal tersebut kini tengah menghadapi guncangan hebat. Pandemi COVID-19, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, hingga konflik militer di Eropa Timur dan Timur Tengah telah mengekspos kerentanan sistemik dari rantai pasok global yang terlampau terkonsentrasi. Pertanyaan besar yang kini mengemuka di kalangan akademisi dan pelaku bisnis digital adalah: apakah kita sedang menyaksikan senjakala globalisasi (deglobalization), atau justru transisi menuju format baru yang disebut reglobalisasi (reglobalization)?

Fenomena persoalan logistik yang tersendat, juga sebuah restrukturisasi fundamental dalam tata kelola ekonomi politik internasional. Untuk memahami dinamika ini, kita perlu membedah pergeseran paradigma tersebut melalui lensa teori perdagangan internasional. Salah satu pendekatan yang sangat relevan adalahย Teori Perdagangan Baru (New Trade Theory) yang dipopulerkan oleh ekonom penerima Nobel, Paul Krugman.

Teori Krugman menjelaskan bagaimana perdagangan internasional sering kali didorong oleh skala ekonomi (economies of scale) dan efek jaringan (network effects), bukan sekadar perbedaan keunggulan komparatif tradisional.

Dalam kondisi globalisasi yang stabil, perusahaan-perusahaan multinasional cenderung memusatkan produksi mereka di kluster-kluster geografis tertentu yang sangat efisien, seperti Shenzhen untuk manufaktur elektronik, guna menekan biaya marginal hingga titik terendah. Strategi ini melahirkan sistem manajemen inventaris yang dikenal sebagai Just-in-Time (JIT), di mana bahan baku didatangkan tepat saat dibutuhkan untuk menghindari biaya penyimpanan.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman:

Whats Your Reaction

like 0
Like
dislike 0
Dislike
love 0
Love
funny 0
Funny
angry 0
Angry
sad 0
Sad
wow 0
Wow