Intens.id Versi penuh
Environmental

Edukasi Lingkungan Ditanamkan Sejak Dini, Wujudkan Generasi Peduli Sampah Plastik

Oleh Redaksi Intens.id 09 Jul 2026 13:02 5 menit baca

Intens.id, Sodioarjo -  Lebih dari 600 siswa-siswi Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) El Haq di Sidoarjo, Jawa Timur, memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan pengalaman edukatif yang berbeda. Pada Kamis, 9 Juli 2026, mereka mengikuti program "Microplastic Journey" yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON).

Kegiatan ini tidak hanya melibatkan siswa kelas 1 hingga kelas 6, tetapi juga lebih dari 20 ustaz dan ustazah, menandai komitmen serius sekolah dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, khususnya terkait bahaya polusi plastik. Bertempat di lapangan sekolah, suasana MPLS berubah menjadi arena pembelajaran interaktif.

Kegiatan dibuka dengan pengenalan instalasi edukatif yang mencolok, yaitu "Kran Plastik". Instalasi ini dirancang untuk secara visual menggambarkan kondisi darurat polusi plastik yang kian mengkhawatirkan. Berbeda dengan keran pada umumnya yang mengalirkan air bersih, "Kran Plastik" justru mengeluarkan botol-botol dan berbagai jenis sampah plastik.

Simbolisme ini sangat kuat: jika penggunaan plastik sekali pakai tidak dihentikan dan dikurangi mulai dari sumbernya, yakni dari diri sendiri sebagai konsumen maka lingkungan akan terus dibanjiri sampah plastik yang pada akhirnya terurai menjadi partikel mikroplastik berbahaya. Respons positif datang dari para siswa. Zada, seorang siswi kelas 6A, mengungkapkan kesan mendalamnya.

"Biasanya keran mengeluarkan air, tapi ini malah mengeluarkan botol-botol plastik. Jadi aku langsung paham kalau sampah plastik sudah sangat banyak dan harus dikurangi," ujarnya, menunjukkan bahwa pesan visual tersebut berhasil tersampaikan dengan efektif kepada anak-anak.

Dalam sesi berikutnya, para siswa diajak untuk memahami lebih jauh tentang mikroplastik. Mereka diperkenalkan dengan lima jenis mikroplastik utama melalui media patung edukatif berwarna-warni yang menarik perhatian. Kelima jenis tersebut meliputi fiber (berwarna hijau) yang berasal dari serat kain sintetis, filamen (biru) yang merupakan pecahan dari plastik tipis seperti kantong kresek, fragmen (kuning) yang terbentuk dari pecahan plastik keras seperti tutup botol dan kemasan sachet, granul (merah muda) yang berasal dari butiran mikroplastik pada produk perawatan diri, serta foam yang merupakan hasil degradasi dari styrofoam.

Penjelasan detail ini membuka wawasan siswa tentang bentuk dan sumber mikroplastik yang ada di sekitar mereka. Pemahaman mengenai bahaya mikroplastik ternyata bukan hal baru bagi sebagian siswa SDIT El Haq. Farukh, siswa kelas 6, menjelaskan bahwa sekolahnya telah lama menerapkan kebijakan ketat dalam pengurangan plastik sekali pakai.

"Di SDIT El Haq kami diwajibkan membawa botol minum (tumbler) dari rumah dan tidak boleh menggunakan air minum dalam kemasan plastik sekali pakai. Botol plastik sekali pakai kalau sering terkena panas atau diremas bisa melepaskan partikel mikroplastik," jelas Farukh, menunjukkan tingkat pemahaman yang cukup mendalam.

Senada dengan Farukh, Adam, siswa kelas 6 lainnya, menambahkan bahwa ia sudah mengetahui bahaya mikroplastik setelah membaca buku komik edukasi.

"Aku sudah tahu bahaya mikroplastik setelah baca buku komik. Mikroplastik bisa membuat orang sakit dan membuat lingkungan menjadi kotor," katanya, menyoroti pentingnya media edukasi yang sesuai usia.

Komitmen SDIT El Haq dalam mengurangi sampah plastik tidak hanya berhenti pada kewajiban membawa tumbler. Kantin sekolah juga telah menerapkan sistem bebas kemasan plastik sekali pakai dengan menyediakan peralatan makan yang dapat digunakan berulang kali. Pengalaman ini diceritakan oleh Alma dan Malika, siswi kelas 2A.

"Kalau jajan di sekolah sudah disediakan piring yang bisa dipakai kembali. Tadi aku beli sosis di kantin pakai piring ini. Kalau tidak menggunakan piring yang disediakan, kami tidak bisa membeli jajanan," tutur mereka, menggambarkan bagaimana kebijakan ini ditegakkan secara konsisten.

Sebagai bagian integral dari rangkaian kegiatan edukasi ini, sehari sebelum acara "Microplastic Journey" berlangsung, seluruh siswa mendapat tugas membuat poster bertema pengurangan plastik sekali pakai. Poster-poster tersebut dirancang untuk menyampaikan pesan edukasi mengenai bahaya mikroplastik dan ajakan untuk mengurangi penggunaan plastik.

Malik, siswa kelas 5, mengaku mengerjakan posternya bersama sang ayah di rumah.

"Poster edukasi mikroplastik ini aku buat bersama ayah di rumah. Jadi ayah juga jadi tahu tentang bahaya mikroplastik dan sampah plastik," ungkap Malik, menunjukkan bahwa edukasi ini juga menjangkau lingkungan keluarga.

Dari lebih dari 600 peserta, sebanyak 60 siswa berhasil menjadi pemenang lomba poster berkat karya mereka yang dinilai kreatif dan inspiratif. Kepala Sekolah SD Islam Terpadu El Haq, Ustadz Abdul Aris, S.Pd.I, menegaskan bahwa seluruh karya poster siswa tidak hanya sekadar ajang lomba, melainkan akan dimanfaatkan sebagai media edukasi permanen di lingkungan sekolah.

"Seluruh poster edukasi mikroplastik yang dibuat siswa akan dipasang di area sekolah agar seluruh warga sekolah semakin memahami bahaya mikroplastik dan pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mulai dari styrofoam, botol plastik, sendok plastik, sedotan, hingga kemasan sachet. Kami berkomitmen mendukung terwujudnya Sidoarjo bebas polusi plastik," jelas Ustadz Abdul Aris.

Beliau juga menambahkan harapannya agar anak-anak menjadi agen perubahan yang aktif mengajak keluarganya mengurangi plastik sekali pakai dari rumah.

"Karena itu, siswa juga diwajibkan membawa botol minum dan wadah makan guna ulang setiap hari," tegasnya.

Lebih lanjut, Ustadz Abdul Aris memaparkan inisiatif paperless yang telah diterapkan di sekolah, seperti penggunaan media online untuk surat-menyurat dan informasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), guna meminimalkan penggunaan banner fisik dan sampah kertas. Melalui kegiatan "Microplastic Journey" ini, ECOTON berharap edukasi mengenai bahaya mikroplastik dapat ditanamkan sejak usia dini, sehingga mampu menumbuhkan generasi yang peduli terhadap lingkungan dan menjadi pelopor pengurangan plastik sekali pakai di sekolah, rumah, maupun masyarakat luas. Inisiatif kolaboratif ini menjadi langkah nyata dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan, dimulai dari pendidikan di bangku sekolah dasar.

Topik terkait
Sidoarjo Sampah Plastik Mikroplastik Lingkungan SDIT EL HAQ Ecoton Edukasi