Sederhana Mengabarkan Versi penuh
News

Dukung Pemuda Pangkep, Kemenhut Kucurkan Senilai Rp130 Juta untuk Keberlanjutan Edu Ekowisata Tabo-Tabo Lewat Koperasi

Oleh Feri 18 Sep 2026 22:50 4 menit baca

Intens.id - Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) Wilayah VI Makassar bersama Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) menyerahkan 27 unit alat produktif senilai Rp130.437.000 kepada lima kelompok usaha masyarakat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tabo-Tabo, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Kamis (17/9/2026).

Penyerahan bantuan ini bertujuan untuk mendukung pengembangan usaha ekonomi kreatif berbasis jasa lingkungan dan ekowisata di kawasan seluas 601 hektar tersebut. Selain menerima fasilitas fisik, para pemuda pemudi berusia 17–30 tahun yang menjadi penerima manfaat juga dihimpun dalam wadah formal berbadan hukum, yakni Koperasi Jasa Panrita Deswita Mandiri, guna mengelola unit usaha edu-ekowisata secara profesional.

Sebanyak 27 unit alat produktif yang dirancang untuk mendukung usaha ekonomi kreatif berbasis jasa lingkungan dan ekowisata diserahkan kepada lima kelompok usaha masyarakat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tabo-Tabo, Pangkep, Sulawesi Selatan. Penyerahan bantuan senilai Rp130.437.000 ini merupakan bagian dari fasilitasi yang digelar oleh Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) Wilayah VI Makassar bersama Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) pada Kamis (17/9/2026).

Kegiatan ini tidak hanya sekadar pemberian bantuan fisik, melainkan sebuah upaya pemberdayaan generasi muda desa berusia 17-30 tahun untuk menjadi pengelola aktif ekowisata yang bertanggung jawab. Para pemuda yang sebelumnya mengikuti bimbingan teknis, kini membentuk badan hukum berupa Koperasi Jasa Panrita Deswita Mandiri, sebagai wadah formal untuk mengelola unit usaha edu-ekowisata di kawasan seluas 601 hektar tersebut.

Kepala Balai P2SDM Wilayah VI Makassar, Kamaruddin, menjelaskan bahwa KHDTK Tabo-Tabo yang telah ditetapkan sejak tahun 1980 ini memiliki fungsi beragam, mulai dari pendidikan, penelitian, wisata alam, hingga pemanfaatan hasil hutan bukan kayu. Potensi alamnya yang kaya, termasuk jalur trekking, air terjun, dan keanekaragaman hayati, menjadi modal utama untuk pengembangan ekowisata.

“Kita harapkan bahwa di tempat ini, setelah kita menjaga hutan yang tetap lestari, tetapi bisa juga kita manfaatkan untuk meningkatkan nilai ekonomi. Namun memang tidak boleh menghilangkan nilai edukasinya,” ujar Kamaruddin dalam sambutannya. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan jasa lingkungan.

Pusgenri, melalui program hilirisasi dan digitalisasi pemanfaatan jasa lingkungan, mengarahkan kegiatan ini untuk mendukung target Indonesia FOLU Net Sink 2030. Pendekatan yang diambil adalah menjaga kelestarian hutan sambil membuka ruang usaha bagi generasi muda, menjadikan mereka bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga pengelola yang memahami nilai konservasi sekaligus mampu mengelola aspek ekonomi.

Alat produktif yang diserahkan terbagi dalam lima kategori sesuai dengan spot tematik. Area Camping Ground menerima perlengkapan seperti tenda, flysheet, dan lampu camping. Spot Sekolah Alam dibekali binokuler, buku panduan lapangan, dan meja portabel. Untuk Trekking Forest Healing, disiapkan kamera profesional, tandu portabel, dan alat P3K. Sementara itu, spot Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) mendapatkan peralatan sadap aren, panen madu, mesin vacuum sealer, dan perlengkapan pengolahan gula aren. Spot Wisata Religi dan Budaya dilengkapi dengan handy talkie dan pengeras suara.

Lebih dari sekadar alat, para pemuda ini juga dibekali pengetahuan dan pendampingan untuk mengelola usaha secara profesional. Sesi kewirausahaan membahas penyusunan rencana edu-ekowisata ke dalam unit usaha koperasi dan perhitungan harga pokok penjualan (HPP) paket wisata. Hal ini penting agar penawaran paket wisata tidak hanya menarik tetapi juga menguntungkan bagi pengelola.

Proses legalitas usaha menjadi salah satu fokus utama. Melalui Klinik Perizinan yang melibatkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Pangkep, kelompok penerima bimbingan dalam membuat hak akses OSS, menyelaraskan KBLI sektor pariwisata dan kehutanan, hingga penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB). Sekretaris DPMPTSP Pangkep, Hamsah, menegaskan kesiapan dinasnya untuk mendampingi masyarakat dalam pengurusan izin.

Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Pangkep juga mengalir. Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian, Drs. Asykur Abu Bakar, melihat potensi besar pada koperasi jasa ekowisata ini. Ia berencana mempromosikan destinasi Tabo-Tabo kepada masyarakat luas, termasuk sekolah, sekaligus mendorong perbaikan akses jalan menuju lokasi.

“Kita harus bekerja sama dengan pihak lain, melakukan kolaborasi, karena menjaga kehutanan ini tidak mudah untuk tetap lestari, dan juga memberikan nilai manfaat,” ujar Kamaruddin, menekankan pentingnya sinergi antarlembaga dan masyarakat. Pengawasan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan akan terus dilakukan oleh penyuluh kehutanan di lapangan.

Dengan kombinasi alat produktif, legalitas usaha, dan pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan KHDTK Tabo-Tabo dapat menjadi contoh pengelolaan ekowisata lestari yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar, sekaligus berkontribusi pada pelestarian hutan. Pemberdayaan generasi muda menjadi kunci agar hutan tidak hanya terjaga, tetapi juga memberikan manfaat berkelanjutan.

Topik terkait
Hutan Pemuda Pangkep