Annyorong Lopi, Gotong Royong Sakral Masyarakat Bulukumba dalam Meluncurkan Warisan Maritim Dunia

Annyorong Lopi, Gotong Royong Sakral Masyarakat Bulukumba dalam Meluncurkan Warisan Maritim Dunia
Ritual Annyorong Lopi Bulukumba Simbol Syukur, Kebersamaan, dan Ketangguhan Budaya Pesisir. (Foto: Humas Pemkab Bulukumba)
Bacakan Artikel

Prosesi Annyorong Lopi biasanya terdiri dari empat tahapan utama yang sarat makna. Tahap pertama, sehari sebelum peluncuran pada sore hari, dilakukan penyembelihan hewan kurban seperti kerbau atau kambing. Ritual ini adalah manifestasi dari rasa syukur atas kelancaran pembuatan kapal dan permohonan berkah. Tahap kedua adalah appasili atau songka bala (tolak bala) yang dilaksanakan pada pagi hari peluncuran. Ini merupakan ritual simbolis untuk menolak mara bahaya dan memohon keselamatan bagi perahu dan para awaknya saat berlayar mengarungi samudra.

Tahap ketiga, pada malam harinya, dilakukan ammossi atau pembuatan pusar (possi) di pertengahan lunas perahu, yang dipimpin oleh tokoh spiritual atau imam setempat. Ritual ini diyakini memberikan kekuatan dan keberuntungan bagi kapal. Tahap terakhir adalah peluncuran itu sendiri, di mana ratusan hingga ribuan warga bergotong royong menarik perahu ke laut menggunakan tali-tali besar, diiringi sorakan semangat dan doa.

Penelitian ilmiah turut mengonfirmasi kekayaan makna di balik tradisi ini, menunjukkan akulturasi yang harmonis antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Dalam jurnal Harmoni (2025), Yasser Mulla Shadra dkk. menganalisis Annyorong Lopi melalui pendekatan fenomenologi agama dan konsep Living Hadith.

Mereka menemukan integrasi nilai-nilai fundamental seperti syukur (shukr), tawakal (pasrah kepada Tuhan), ukhuwah (persaudaraan), dan harmoni antara usaha maksimal manusia dengan ketergantungan kepada Allah dalam setiap tahap ritual. Semangat gotong royong dan doa bersama yang mengiringi prosesi menjadi wujud nyata nilai-nilai hadis yang dihidupkan dalam praktik budaya masyarakat pesisir Bulukumba.

Studi lain, seperti yang dilakukan Asfar dkk. (2021) tentang Living Qur’an dalam tradisi ini, serta penelitian Demmalino dkk. (2019) mengenai nilai religiusitas para panrita lopi, semakin memperkuat bahwa ritual Annyorong Lopi bukan sekadar pelestarian budaya semata. Lebih dari itu, ia berperan penting dalam memperkuat identitas keagamaan dan kohesi sosial masyarakat pesisir. Tradisi ini menjadi media transmisi nilai-nilai luhur dari generasi ke generasi, memastikan bahwa warisan tak benda ini tetap hidup dan relevan.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: