Agroekologi dan Wajah Urban Farming di Kota Makassar

Agroekologi dan Wajah Urban Farming di Kota Makassar
Agroekologi dan Wajah Urban Farming di Kota Makassar
Bacakan Artikel

Selain itu, praktik agroekologi yang meminimalkan penggunaan input eksternal seperti pupuk dan pestisida kimia, secara efektif menurunkan biaya produksi, sehingga keuntungan dapat lebih dinikmati oleh para petani kota itu sendiri, bukan oleh produsen input pertanian skala besar.

Tantangan dan Peluang Transformasi Perkotaan Melalui Urban Farming Berbasis Agroekologi

Meskipun potensi agroekologi dalam urban farming di Makassar sangat besar, berbagai tantangan tetap perlu diatasi untuk mewujudkan transformasi perkotaan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan lahan di kawasan perkotaan yang padat. Ketersediaan lahan yang aman, bebas dari kontaminasi polutan, dan memiliki akses terhadap sumber air yang memadai menjadi prasyarat penting.

Selain itu, regulasi tata ruang yang belum sepenuhnya mengakomodasi praktik pertanian di perkotaan seringkali menjadi hambatan. Kurangnya dukungan kebijakan yang memadai, seperti insentif fiskal, akses permodalan, atau penyediaan lahan publik untuk urban farming, juga membatasi skala dan keberlanjutan gerakan ini. Namun, di balik tantangan tersebut, terbentang pula peluang besar.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: