Intens.id Versi penuh
Nasional

"Yang Kita Tinggalkan Bukan Gelar, Melainkan Generasi", Pesan Prof. Widya dalam Orasi Pengukuhan Guru Besar di UNM

Oleh Muhammad Riszky 31 Jul 2026 13:30 6 menit baca

Intens.id, Di bawah langit Makassar yang cerah pada Kamis, 30 Juli 2026, suasana di Universitas Negeri Makassar (UNM) terasa berbeda. Di gedung yang menjadi simbol pencapaian intelektual itu, seorang perempuan dengan gurat keteguhan dan kelembutan di wajahnya berdiri di mimbar kehormatan. Prof. Dr. Widya Karmila Sari Achmad, S.Pd., M.Pd., tengah bersiap menyampaikan orasi ilmiah yang bukan sekadar deretan teori, melainkan sebuah manifesto tentang masa depan pendidikan dasar di Indonesia.

Mengenakan toga kebesaran, Prof. Widya mengawali langkahnya dengan sebuah kesadaran mendalam bahwa gelar Guru Besar bukanlah sekadar mahkota akademik.

"Jabatan ini adalah amanah intelektual sekaligus tanggung jawab moral yang justru semakin mempertajam integritas akademik seorang pendidik," ucapnya dengan nada yang tenang di hadapan Senat Terbuka Luar Biasa UNM.

Selama lebih dari 21 tahun, ia telah menyusuri lorong-lorong sekolah dasar, berdialog dengan guru di pelosok, dan meneliti ribuan data. Perjalanan itu membawanya pada satu kesimpulan besar bahwa pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah dasar sedang berada di persimpangan kritis yang menentukan.

Krisis di Ruang Kelas

Narasi Prof. Widya bermula dari keprihatinan yang mendalam. Ia memaparkan data yang menyesakkan dada. Hasil survei PISA 2022 menunjukkan posisi Indonesia yang masih tertinggal dalam literasi membaca, numerasi, dan sains. Namun, bagi Prof. Widya, ada krisis yang lebih senyap namun mematikan: krisis karakter dan hilangnya makna dalam belajar.

"Pembelajaran IPS di sekolah dasar kita selama ini masih terjebak dalam paradigma yang bersifat transmisif; guru menyampaikan fakta, siswa menerima dan menghafalkan," tuturnya.

IPS, yang seharusnya menjadi jendela pertama bagi anak-anak untuk mengenal diri dan dunianya, justru sering kali berubah menjadi beban hafalan nama, tanggal, dan definisi yang kering. Lebih mengkhawatirkan lagi, ia menyoroti peningkatan angka intoleransi dan memudarnya semangat gotong royong di kalangan generasi muda.

"Identitas kultural peserta didik kita semakin tergerus oleh dominasi budaya populer global yang kerap bertentangan dengan nilai-nilai luhur budaya Nusantara," jelasnya. Di sinilah, Prof. Widya menawarkan sebuah kompas baru yang ia sebut sebagai Pedagogi Sosial Transformatif (PST).

Prof. Widya (Foto: Labs TP FIP UNM)

Kompas Baru

Pedagogi Sosial Transformatif bukan sekadar metode mengajar baru, melainkan sebuah cara memandang anak didik sebagai subjek yang berdaya. Terinspirasi dari pemikiran kritis Paulo Freire hingga filosofi Ki Hajar Dewantara, Prof. Widya membangun sebuah kerangka yang ia sebut "Kurikulum Akar Ganda".

Ia menjelaskan bahwa PST bertumpu pada empat pilar utama yang saling berkelindan:

  1. Kesadaran Kritis Sosial: Anak-anak diajak bukan hanya mengetahui fakta, tapi mempertanyakan realitas di sekeliling mereka.
  2. Penguatan Identitas Kultural: Menjadikan nilai lokal seperti budaya Bugis, Batak, dan Makassar yang mengalir dalam darahnya sebagai jangkar di tengah badai globalisasi.
  3. Pembentukan Karakter Berbasis Nilai: Karakter tidak diajarkan melalui teks, melainkan dihidupi melalui pengalaman nyata di komunitas.
  4. Orientasi Global yang Reflektif: Membuka mata anak bangsa pada isu kemanusiaan universal tanpa harus kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia.

"Pendidikan yang sejati tidak pernah netral tapi ia selalu berpihak," tegas Prof. Widya, mengutip Freire. "Dan pilihan kita adalah apakah ia berpihak pada pembebasan atau pada penindasan, pada transformasi atau pada status quo".

Jejak 21 Tahun

Di balik ketajaman pemikirannya, ada perjalanan personal yang penuh liku. Lahir di Ujung Pandang pada 7 November 1973, Widya tumbuh dalam perpaduan budaya yang kaya, ayah berdarah Bugis dan ibu berdarah Batak-Makassar. Identitas ini yang membuatnya sangat mencintai keberagaman Indonesia.

Namun, pencapaian hari ini adalah hasil dari sebuah keteguhan hati yang luar biasa. Ia mengenang masa-masa sulit dalam perjalanan akademiknya dengan memegang teguh prinsip La Tahzan (jangan bersedih), sesungguhnya Allah bersama kita.

Suasana sidang senat sempat hening sejenak ketika Prof. Widya mengenang mendiang suaminya, Prof. Dr. H. Andi Qashas Rahman, M.Hum. Selama 26 tahun perjalanan cinta mereka, sang suami adalah pendukung utamanya yang dengan sabar menunggu Widya menyelesaikan studi S1 hingga S3.

Mengenakan Jubah Almarhum suaminya, dalam Acara Pengukuhan Guru Besar adalah upaya Prof. Widya mengenang Support System yang telah mendahului. (Foto: Labs TP FIP UNM)

"Di setiap malam yang panjang, saat keraguan dan kelelahan menghampiri, kalimat yang paling sering Almarhum sampaikan adalah, 'Semua akan baik-baik saja,'" kenangnya dengan suara yang sedikit bergetar.

Bagi Prof. Widya, pengukuhan ini bukan miliknya pribadi, melainkan milik mereka berdua. Kini, sebagai ibu dari tiga anak yang juga telah menapak jalan kesuksesan yakni Azhari, Akbari, dan Alfiyah, Prof. Widya menunjukkan bahwa dedikasi pada ilmu pengetahuan tidak harus mengorbankan peran dalam keluarga.

Menanam Akar, Mengepak Sayap

Kontribusi Prof. Widya tidak berhenti di atas kertas. Ia telah mengembangkan model pembelajaran PST-IPS yang dilengkapi dengan perangkat praktis, mulai dari panduan guru hingga modul digital berbasis literasi kritis. Ia bermimpi tentang sebuah Indonesia di mana setiap anak, dari lereng pegunungan Papua hingga pesisir Sulawesi, mendapatkan pendidikan yang memanusiakan.

"Saya bermimpi tentang guru-guru yang tidak hanya mengajar tetapi menginspirasi. Tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi membimbing peserta didik untuk bertanya, berefleksi, dan bertindak," ucapnya penuh harap.

Baginya, ruang kelas harus menjadi miniatur kehidupan sosial yang demokratis. Tempat di mana kejujuran, empati, dan gotong royong bukan sekadar materi ujian, melainkan perilaku yang menetap dalam diri atau yang disebutnya sebagai habitus.

Dedikasi Prof. Widya pada transformasi pendidikan tidak hanya menggema di podium orasi, namun tertuang secara konsisten dalam puluhan karya ilmiah yang melintasi berbagai isu krusial di sekolah dasar. Baginya, menulis adalah cara untuk memastikan bahwa gagasan tentang pedagogi transformatif dapat diuji, dikritik, dan diterapkan oleh pendidik di seluruh penjuru dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah mempublikasikan riset-riset pionir yang menggabungkan nilai budaya dengan kemajuan teknologi digital. Salah satu karyanya yang menonjol adalah penelitian mengenai "Critical Literacy-Based Digital Module for Elementary Students" (2025) yang dipublikasikan di Jurnal Edutech Undiksha, yang membedah bagaimana modul digital dapat menjadi sarana penguatan literasi kritis bagi siswa sejak dini.

Kepiawaiannya dalam memotret dinamika pendidikan di Indonesia juga diakui secara internasional. Melalui karyanya, "Immediacy of Teaching English at Elementary Schools in Indonesia" (2025) yang diterbitkan di Sage Journal, ia menyoroti urgensi dan tantangan pengajaran bahasa Inggris di jenjang dasar dalam konteks lokal.

Selain itu, ia melakukan tinjauan mendalam melalui "Differentiated Instruction In Reading In Elementary Schools: A Systematic Review", sebuah karya yang mengeksplorasi efektivitas pembelajaran terdiferensiasi dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa.

Dengan publikasi yang konsisten di jurnal bereputasi, Prof. Widya membuktikan bahwa dari Makassar, ia mampu memberikan sumbangsih pemikiran yang relevan bagi masa depan pendidikan global.

Manifesto untuk Masa Depan

Menjelang akhir orasinya, Prof. Widya memberikan pesan kuat bagi para pembuat kebijakan dan pendidik di seluruh Nusantara. Ia menegaskan bahwa investasi pada pembelajaran IPS yang transformatif sejak jenjang dasar adalah cara paling efektif untuk menangkal ancaman intoleransi, radikalisme, dan disintegrasi sosial.

"Sebab pada akhirnya, yang terbaik yang dapat kita tinggalkan di dunia ini bukanlah gelar yang terukir di papan nama, melainkan generasi yang tumbuh dengan hati yang baik, pikiran yang kritis, dan jiwa yang merdeka," tutupnya dengan senyum yang tulus.

Saat ia melangkah turun dari mimbar, tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Prof. Dr. Widya Karmila Sari Achmad telah mengingatkan kita semua bahwa pendidikan bukan sekadar mengisi wadah kosong dengan informasi, melainkan menyalakan api kesadaran di dalam jiwa setiap anak bangsa.

Di tangan para pendidik seperti dialah, masa depan Indonesia yang berkarakter, berbudaya, dan berwawasan global bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah keniscayaan yang sedang dibangun, selangkah demi selangkah, dari ruang-ruang kelas sekolah dasar.

Topik terkait
guru besar unm Prof. Widya