Susanna C. Kansil Mosse Pimpin Perayaan HUT ke-102 WKRI: Merawat Rahim Kehidupan Demi Perempuan Berdaya dan Anak Terlindungi
Intens.id, Makassar - Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Sulawesi Selatan baru-baru ini merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) WKRI ke-102 dengan penuh khidmat dan semangat pembaharuan.
Perayaan yang berpusat di Gereja Katolik Paroki Santo Yakobus Mariso, Jalan Gagak No. 21, Kota Makassar pada Sabtu, 26 Juni 2026 ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali komitmen organisasi dalam isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Ketua Presidium Wanita Katolik RI DPD Sulawesi Selatan, Susanna C. Kansil Mosse, hadir memimpin rangkaian acara, menggaungkan pesan perjuangan yang relevan dengan tantangan zaman.
Mengusung tema "Melanjutkan Langkah Harapan: Merawat Rahim Kehidupan, Demi Perempuan Berdaya dan Anak Terlindungi", perayaan ini tidak hanya sekadar mengenang sejarah panjang WKRI, tetapi juga menjadi seruan untuk aksi nyata. Tema ini merefleksikan urgensi peran perempuan dalam menjaga kelangsungan hidup, tidak hanya secara harfiah sebagai ibu, tetapi juga sebagai agen penjaga lingkungan dan pelindung generasi penerus bangsa dari berbagai ancaman dan tantangan sosial di era modern.
Rangkaian perayaan HUT ke-102 ini telah dimulai sejak awal Juni 2026 dengan berbagai kegiatan yang melibatkan anggota dan masyarakat luas di wilayah Makassar. Kegiatan diawali dengan seminar kesehatan yang bekerja sama dengan Laboratorium Prodia pada Sabtu, 6 Juni 2026, bertempat di Gedung Prodia. Seminar ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan bagi perempuan sebagai pilar keluarga dan masyarakat. Selanjutnya, pada Sabtu, 13 Juni 2026, WKRI menggelar senam bersama dan gerakan menanam tanaman di Anjungan Pantai Losari.
Kegiatan yang didukung penuh oleh Pemerintah Kota Makassar melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup ini menunjukkan komitmen WKRI terhadap kelestarian lingkungan dan pentingnya gaya hidup sehat. Rangkaian pra-acara ini kemudian ditutup dengan lomba menghias tumpeng, simbol kebersamaan, kekayaan budaya, dan semangat gotong royong.
Puncak perayaan HUT ke-102 diawali dengan Misa Syukur yang diikuti oleh anggota Wanita Katolik RI dari 11 Dewan Pengurus Cabang (DPC) se-Kota Makassar, bertempat di Gereja Katolik Paroki Santo Yakobus Mariso. Suasana khidmat misa dilanjutkan dengan acara ramah tamah yang berlangsung di Aula Seminari Santo Petrus Claver Mariso. Acara ini dihadiri oleh ratusan anggota WKRI dari berbagai tingkatan, mulai dari cabang, ranting, hingga pengurus daerah.
Turut hadir pula perwakilan organisasi wanita yang tergabung dalam Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW), serta organisasi kemasyarakatan dalam Keuskupan Agung Makassar seperti Pemuda Katolik Komisariat Cabang Makassar, Pemuda Katolik Komda Sulawesi Selatan, dan Vox Point, menunjukkan kolaborasi lintas organisasi.
Dalam laporannya, Ketua Panitia HUT WKRI ke-102, Ivonne Runturambi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada DPD Sulsel yang telah mempercayakan DPC Santo Yakobus Mariso sebagai pelaksana kegiatan tahun ini.
"Mewakili seluruh Panitia Pelaksana, saya menyampaikan terima kasih kepada DPD Sul-Sel yang telah memberikan kepercayaan kepada kami DPC Santo Yakobus Mariso sebagai Panitia Pelaksana untuk kegiatan HUT 102 tahun organisasi untuk tahun ini. Sekaligus kami mohon maaf jika ada yang kurang atau tidak berkenan dalam setiap kegiatan dalam rangka HUT 102 tahun. Dirgahayu Organisasi Wanita Katolik RI, jayalah selalu," ujarnya penuh semangat, menandai keberhasilan penyelenggaraan acara.
Ketua Presidium Wanita Katolik RI DPD Sulawesi Selatan, Susanna C. Kansil Mosse, dalam kesempatan tersebut membacakan sambutan dari Ketua Presidium Dewan Pengurus Pusat Wanita Katolik RI. Sambutan tersebut dengan tegas menyampaikan bahwa peringatan HUT ke-102 ini bukan hanya sekadar mengenang perjalanan panjang organisasi, melainkan juga sebuah ajakan kuat untuk meneruskan semangat perjuangan para pendahulu melalui karya nyata yang relevan dengan dinamika dan tantangan zaman. Selama lebih dari satu abad, Wanita Katolik RI telah membuktikan perannya sebagai wadah pemberdayaan perempuan yang konsisten berkontribusi bagi Gereja, masyarakat, dan bangsa.
Melalui tema sentral "Melanjutkan Langkah Harapan: Merawat Rahim Kehidupan Demi Mewujudkan Perempuan Berdaya dan Anak Terlindungi", seluruh anggota diajak untuk semakin meningkatkan kepedulian terhadap isu perlindungan perempuan dan anak. Hal ini mencakup upaya mengatasi berbagai persoalan sosial yang masih melingkupi, serta menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab bersama. Konsep "rahim kehidupan" yang diusung dalam tema ini memiliki makna mendalam; tidak hanya sebagai simbol kehidupan yang lahir dari perempuan, tetapi juga sebagai metafora tanggung jawab universal untuk merawat bumi dan memastikan masa depan generasi mendatang tetap terjamin dan berkelanjutan.
Sambutan tersebut juga secara khusus menyoroti pentingnya peran perempuan yang berdaya, yaitu mereka yang memiliki kapasitas dan kesempatan untuk terlibat aktif dalam berbagai bidang kehidupan, serta mampu menjadi agen perubahan positif di tengah masyarakat. Pada saat yang sama, perlindungan anak dari berbagai ancaman, termasuk tantangan kompleks di era digital, ditekankan sebagai prioritas utama yang harus diperjuangkan secara kolektif oleh semua pihak.
Di akhir sambutannya, Susanna C. Kansil Mosse mengajak seluruh anggota WKRI untuk memperkuat pelayanan, membangun kolaborasi strategis dengan berbagai pihak, meningkatkan kaderisasi anggota, menjaga persatuan dan kesatuan organisasi, serta terus-menerus menghadirkan kasih Kristus melalui tindakan nyata. Dengan semangat tersebut, Wanita Katolik RI diharapkan akan semakin menjadi organisasi yang memberikan manfaat nyata, dipercaya oleh masyarakat, dan senantiasa menjadi berkat bagi Gereja serta bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Dukungan dan apresiasi turut datang dari Penasihat Rohani WKRI DPD Sulsel sekaligus Ketua Komisi Kerawam dan Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Agung Makassar, Pastor Albert Arina, Pr. Beliau mengapresiasi konsistensi Wanita Katolik RI dalam karya sosial dan pelayanan gerejawi selama ini.
"Perjalanan 102 tahun Wanita Katolik RI adalah kisah panjang perjuangan perempuan dalam Gereja. Ini bukan sekadar perayaan, tetapi panggilan melanjutkan semangat pendiri Wanita Katolik RI, Raden Ayu Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat Darmaseputra, dengan karya nyata yang relevan bagi zaman ini. Sejarah berdiri sejak 26 Juni 1924 di Yogyakarta dan diakui secara hukum pada 5 Februari 1952, WKRI kini terus berkembang dan sejak 1957 menjadi bagian dari World Union of Catholic Women’s Organisations (WUCWO)," ungkap Pastor Albert, memberikan konteks historis yang kaya tentang jejak langkah organisasi.
Senada dengan itu, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Makassar, Pastor Dericson Alverius Turnip, CICM, menegaskan pentingnya bagi Wanita Katolik Republik Indonesia untuk terus memperjuangkan semangat awal organisasi, diiringi kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman yang terus berubah.
Menurutnya, semangat menjaga harkat dan martabat perempuan, memelihara keutuhan keluarga, serta menjadi tonggak pertumbuhan keluarga harus tetap dipertahankan. Pastor Dericson menekankan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi bangsa yang berkualitas.
"Di dalam keluarga, anak-anak harus bisa menjadi anak yang betul-betul merasa dikasihi, dicintai, dan diperhatikan. Dengan begitu, setiap anak bangsa akan menjadi anak yang prima, bermartabat, dan unggul karena dikasihi dan merasakan kasih sayang dari orang tua. Jika setiap keluarga bagus, maka bangsa ini akan bagus," ujarnya, menyoroti peran sentral keluarga dalam pembangunan bangsa.
Pastor Dericson juga tidak luput menyoroti berbagai persoalan yang masih dihadapi keluarga saat ini, mulai dari konflik rumah tangga yang memecah belah hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berdampak serius pada tumbuh kembang anak.
"Anak yang terluka inilah yang kelak akan menjadi bibit-bibit kerumitan dan kerusakan bagi bangsa ini. Karena anak yang tidak bertumbuh dalam kasih, nantinya ke mana pun mereka pergi akan cenderung terlibat dalam konflik horizontal dengan sesama. Hal itu terjadi karena hati mereka ada yang kosong," tegasnya, menggambarkan konsekuensi jangka panjang dari lingkungan keluarga yang tidak sehat dan kurang kasih sayang.
Oleh karena itu, Pastor Dericson mengajak seluruh anggota WKRI untuk tidak hanya memikirkan keluarganya masing-masing, tetapi juga memperluas kepedulian terhadap keluarga-keluarga lain di tengah masyarakat. Menurutnya, tidak boleh ada anak yang terlantar, tumbuh tanpa kasih sayang, tidak terawat, ataupun mengalami stunting karena mereka adalah masa depan bangsa yang harus dijaga.
"Kadang kita merasa saat melihat anak seperti tidak apa-apa karena itu hanya satu orang. Padahal sebenarnya kalau kita melihat lebih jauh, ada banyak anak-anak yang terlantar di negeri kita ini. Anak-anak yang terlantar inilah yang menjadi subjek perjuangan para WKRI ini. Saya kira demikian," pungkasnya, menyerukan aksi kolektif dan kepedulian yang lebih luas.
Perayaan HUT ke-102 Wanita Katolik RI DPD Sulawesi Selatan ini ditutup dengan tekad bulat untuk terus berjuang, berkarya, dan berjalan dalam pengharapan demi terwujudnya kesejahteraan perempuan dan anak. Komitmen ini selaras dengan semangat Gereja Katolik dalam pelayanan sosial dan visi besar Indonesia Emas 2045 yang mengimpikan generasi unggul dan berdaya, lahir dari keluarga yang kuat dan lingkungan yang mendukung.