Intens.id Versi penuh
Environmental

Profesor Emil Salim Dianugerahi Penghargaan Seumur Hidup: Pesan Mendalam untuk Laut Indonesia

Oleh Redaksi Intens.id 12 Jun 2026 22:58 4 menit baca

Intens.id, Jakarta – Keriuhan pameran teknologi lingkungan INVIROTECH 2026 di Jakarta mendadak jeda sejenak, digantikan oleh atmosfer hangat dan penuh haru. Seluruh hadirin serentak berdiri, memberikan tepuk tangan penghormatan yang panjang dan tulus. Penghargaan yang diserahkan hari itu bukan untuk mesin atau inovasi mutakhir, melainkan bagi seorang tokoh yang seluruh rambut putihnya menjadi saksi bisu dari lima dekade perjalanan menjaga bumi Indonesia.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menganugerahkan Lifetime Achievement Award kepada Profesor Emil Salim, sebuah bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengabdian seumur hidupnya bagi masa depan lingkungan hidup di tanah air, sekaligus menjadi momentum untuk menyampaikan pesan mendalam tentang kelestarian laut Indonesia.

Apresiasi ini bukan sekadar seremonial di atas panggung, melainkan sebuah pengakuan atas konsistensi seorang Emil Salim yang selama puluhan tahun mengawal agar pembangunan nasional tidak berjalan dengan cara merusak alam.

Jauh sebelum isu perubahan iklim menjadi perbincangan hangat di media sosial hari ini, ia telah meletakkan fondasi dasar bagaimana cara merawat bumi dengan cara-cara modern dan berkelanjutan. Lewat berbagai peran penting yang pernah diembannya, mulai dari Wakil Ketua Bappenas, Menteri Perhubungan, Menteri Lingkungan Hidup, hingga Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, ia selalu menjadi pengingat agar roda ekonomi dan kelestarian alam bisa berjalan beriringan, menciptakan sinergi yang harmonis demi kemakmuran bangsa.

Namun, alih-alih larut dalam romantisme masa lalu atau deretan penghargaan internasional yang pernah diterimanya seperti Golden Ark Award hingga The Leader for the Planet Award, tokoh senior ini justru memilih menggunakan momen tersebut untuk melempar sebuah refleksi mendalam. Dengan pembawaan yang tenang namun sarat makna, ia mengingatkan bahwa tantangan nyata di depan mata justru ada di hamparan perairan kita.

"Kita mengalami tantangan besar terkait masalah lingkungan. Saya mohon bantuan Menteri Lingkungan Hidup, bisakah kita membangun Republik Indonesia tanpa merusak laut. Laut harus kita jadikan sebagai sumber kehidupan, bukan hanya sebagai objek pembangunan, tetapi juga sebagai subjek yang harus dijaga keberlanjutannya," ujar Emil Salim, menyoroti urgensi pelestarian ekosistem maritim.

Pesan sederhana namun menohok itu langsung disambut hangat oleh KLH/BPLH. Bagi institusi yang memegang kendali atas kelestarian alam ini, kegelisahan sang mentor bangsa bukanlah sekadar harapan kosong, melainkan sebuah pekerjaan rumah yang harus dijawab dengan aksi nyata di lapangan. Menanggapi tantangan tersebut, Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa arah kebijakan perlindungan ekosistem pesisir saat ini memang sedang menjadi prioritas besar demi memastikan masa depan generasi mendatang.

"Saat ini kami sedang menggencarkan berbagai upaya perlindungan laut, termasuk kampanye pengurangan sampah plastik yang masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi ekosistem pesisir dan laut Indonesia. Pesan Prof. Emil memperkuat komitmen kita bahwa laut harus dijaga sebagai sumber kehidupan yang menopang kesejahteraan masyarakat dan masa depan bangsa," kata Menteri Jumhur, menekankan komitmen pemerintah.

Langkah taktis yang dijalankan KLH/BPLH ini sekaligus menjadi jembatan untuk meneruskan estafet perjuangan yang selama ini melekat pada sosok Emil Salim. Sepanjang kiprahnya, pemikiran tokoh bangsa ini memang tidak pernah terbatas oleh sekat geografis. Dunia internasional bahkan telah lama mencatat namanya saat ia dipercaya memimpin sebagai President of the Governing Council of the United Nations Environment Programme (UNEP) serta menjadi penasihat di berbagai lembaga global, menunjukkan pengaruhnya yang melampaui batas negara.

Kendati demikian, warisan terbesar yang ditinggalkannya bagi Indonesia sebenarnya bukan terletak pada jabatan mentereng atau trofi berkilau seperti Zayed International Prize atau Blue Planet Prize. Warisan sejatinya hidup dalam nilai-nilai yang hari ini diadopsi menjadi napas gerakan KLH/BPLH: sebuah pembangunan yang adil, birokrasi yang bersih, penegakan hukum yang tegas, serta ruang hidup yang tetap ramah bagi lingkungan. Nilai-nilai luhur itulah yang terus mengalir menjadi inspirasi bagi generasi muda maupun para penentu kebijakan masa kini.

Di balik ketajaman gagasannya, ada satu karakter kuat yang selalu berhasil mengunci rasa hormat publik, yaitu kerendahan hati untuk terus membuka ruang dialog dan belajar dari siapa saja. Dari sikap pembelajar sepanjang hayat itulah lahir pemikiran lingkungan yang bijaksana, merangkul semua kalangan, dan tetap relevan menghadapi tantangan zaman. Momen penghargaan di INVIROTECH 2026 ini pada akhirnya menjadi pengingat berharga bagi kita semua, bahwa kemakmuran ekonomi dan kelestarian alam bukanlah dua hal yang harus saling mengalahkan, melainkan dua komitmen yang harus selalu berjalan beriringan demi Indonesia yang lebih baik dan berkelanjutan.

Topik terkait
Intens.id Lingkungan Emil Salim BPLH Jumhur Hidayat