Prof. Philip K. Widjaja: Komunitas Buddha Harus Hadir dalam Pembangunan Berkelanjutan, Bambang Patijaya Dorong Pemimpin yang Berdampak
Intens.id, Jakarta - Penguatan peran komunitas Buddha serta pembentukan karakter kepemimpinan generasi muda menjadi fokus utama dalam kegiatan yang menghadirkan Ketua Umum PERMABUDHI, Prof. Philip K. Widjaja, dan Ketua Komisi XII DPR RI sekaligus Ketua Umum DPP GEMABUDHI, Dr. Bambang Patijaya, S.E., M.M., Pada Hari Jumat (24/07/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Philip K. Widjaja menyampaikan materi bertajuk “Membangun Narasi Konstruktif Komunitas Buddha Indonesia dalam Pembangunan Berkelanjutan.” Sementara itu, Bambang Patijaya membawakan materi “Membentuk Karakter Kepemimpinan yang Menginspirasi, Berdaya, dan Berdampak.”
Melalui materi yang disampaikan, kedua tokoh memberikan perspektif yang saling melengkapi mengenai pentingnya memperkuat komunitas, menghadirkan kontribusi nyata, serta membentuk karakter generasi muda Buddhis yang mampu menjawab tantangan zaman.
Dalam pemaparannya, Prof. Philip K. Widjaja menekankan bahwa komunitas dan organisasi Buddha perlu bergerak melampaui rutinitas administratif. Menurutnya, organisasi harus hadir menjawab kebutuhan masyarakat serta memberikan kontribusi nyata dalam berbagai persoalan, mulai dari pembangunan berkelanjutan, lingkungan, kemanusiaan, hingga kehidupan sosial.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai Buddhis tidak cukup dipahami sebatas ritual dan wacana, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Agama Buddha bukan kita cuma ngomong, kemudian doa-doa kita sendiri selesai.”
Menurut Prof. Philip, kepedulian terhadap lingkungan dan kemanusiaan merupakan bentuk nyata dari upaya mengurangi penderitaan.
“Merusak lingkungan adalah merusak dirinya kita sendiri,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Bambang Patijaya menyoroti pentingnya membentuk karakter pemimpin yang tidak hanya mampu memimpin, tetapi juga mampu menginspirasi, memberdayakan, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Sebagai Ketua Umum DPP GEMABUDHI, ia mendorong generasi muda Buddhis untuk terus meningkatkan kapasitas, memperluas wawasan, membangun jejaring, serta berani mengambil peran dalam berbagai ruang pengabdian.
Menurutnya, kepemimpinan tidak boleh berhenti pada jabatan maupun status, tetapi harus dibuktikan melalui kontribusi.
“Kita pada hari ini tidak lagi bicara kepada legacy, tetapi bicara kepada kontribusi,” ujar Bambang Patijaya.
Ia menegaskan bahwa seseorang akan dikenang bukan semata karena jabatan yang pernah dimiliki, melainkan karena kontribusi yang diberikan.
“Tanpa kontribusi, tidak ada yang akan dikenang.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi generasi muda Buddhis agar tidak hanya aktif di lingkungan internal organisasi, tetapi juga mampu hadir dalam berbagai isu kebangsaan, kemanusiaan, lingkungan, energi, serta persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Bambang juga mengingatkan agar generasi muda Buddhis tidak merasa rendah diri dalam mengambil peran.
“Jangan minder walaupun minoritas,” pesannya.
Melalui dua materi tersebut, kegiatan ini menegaskan pentingnya membangun komunitas Buddha yang konstruktif sekaligus melahirkan generasi pemimpin yang memiliki karakter, kapasitas, keberanian, dan kepedulian untuk memberikan dampak nyata.
Komunitas yang kuat membutuhkan narasi yang konstruktif, sementara masa depan membutuhkan pemimpin yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga berdaya dan berdampak.
Bagi GEMABUDHI, penguatan kapasitas dan karakter generasi muda merupakan bagian penting dalam mempersiapkan kader Buddhis yang mampu berkontribusi secara nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.