Kolaborasi Lintas Ilmu, Mahasiswa KKN Unhas Fokuskan Program Penguatan Literasi di Takalar
Gelar Monitoring Awal, KKN Unhas Gelombang 116 Siap Sinergikan Potensi Lokal Kelurahan Salaka
Intens.id, Takalar, - Semangat pengabdian mulai bergelora di Kelurahan Salaka, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar. Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 116 Tahun 2026 menjadi penanda dimulainya sebuah ikhtiar besar untuk belajar, mengabdi, dan tumbuh bersama masyarakat. Mereka datang bukan sekadar membawa identitas sebagai insan akademik, melainkan membawa harapan dan energi baru yang siap disinergikan dengan denyut kehidupan warga Salaka.
Sabtu (11/7) lalu, perjalanan pengabdian ini secara resmi ditandai dengan pelaksanaan Monitoring Awal KKN. Kegiatan ini bukan hanya berfungsi sebagai evaluasi kesiapan mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang krusial bagi perjumpaan gagasan antara pihak kampus dan masyarakat. Monitoring awal ini menjadi fondasi penting agar setiap langkah pengabdian yang akan dijalankan berpijak pada kebutuhan riil warga serta potensi lokal yang dimiliki Kelurahan Salaka, memastikan relevansi dan keberlanjutan program.
Kegiatan monitoring dipimpin langsung oleh Dosen Pendamping KKN (DPK), Dr. Sumarlin Rengko HR, S.S., M.Hum., yang membina dua posko KKN di Kelurahan Salaka, yakni Posko Salaka 1 dan Posko Salaka 2. Dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban, para mahasiswa memaparkan hasil observasi lapangan yang telah mereka lakukan, mengenali karakter masyarakat, sekaligus mendiskusikan berbagai program kerja inovatif yang akan dijalankan selama masa pengabdian mereka.
Bagi Dr. Rengko, dosen Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Unhas yang akrab disapa Pak Rengko, KKN bukan semata agenda akademik yang harus dituntaskan. Lebih dari itu, KKN adalah sebuah "laboratorium kehidupan" yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan denyut nadi masyarakat. "Mahasiswa tidak datang sebagai orang yang merasa paling tahu, melainkan sebagai pembelajar yang siap mendengar, memahami, dan bertumbuh bersama masyarakat. Pengabdian yang baik adalah pengabdian yang lahir dari dialog, bukan dari asumsi," tegasnya.
Ia melanjutkan, "Karena itu, setiap program harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang." Dr. Rengko juga menegaskan bahwa keberhasilan KKN bukan semata-mata diukur dari banyaknya program yang terlaksana, melainkan dari seberapa besar perubahan positif yang mampu ditinggalkan bagi masyarakat. Menurutnya, esensi pengabdian adalah tentang membangun kepercayaan, menghadirkan solusi konkret, dan menguatkan semangat gotong royong di tengah warga.
Dua belas mahasiswa yang tergabung dalam dua posko KKN ini hadir dengan latar belakang disiplin ilmu yang sangat beragam. Perbedaan ini justru menjadi kekuatan utama yang saling melengkapi dalam menghadirkan inovasi dan solusi komprehensif bagi masyarakat. Di Posko Salaka 1, kepemimpinan dipercayakan kepada Rhesa Ardiyanto, mahasiswa Fakultas Hukum Program Studi Ilmu Hukum, sebagai Koordinator Desa. Ia didampingi oleh Yesaya Imanuel Arung Langi sebagai Sekretaris, Andi Siti Raodahtul Jannah sebagai Bendahara, Humairah sebagai Koordinator Hubungan Masyarakat, Fildza Siirinnabila Rusdy sebagai Penanggung Jawab Publikasi dan Dokumentasi, serta Dave Albert Valerian Kawer sebagai Koordinator Logistik.
Sementara itu, Posko Salaka 2 diperkuat oleh Muhammad Ariel Guevara Harly, Abdillah Khafif, Titan Salfasaj, Nur Aulia, Margalina Koto, dan Delia Apriliawati. Keenam mahasiswa ini berasal dari rumpun ilmu yang berbeda-beda, mulai dari hukum, teknik, kesehatan, kelautan, hingga pertanian. Keberagaman disiplin ilmu ini menjadi cerminan semangat Universitas Hasanuddin dalam membangun kolaborasi lintas bidang, di mana setiap mahasiswa membawa sudut pandang keilmuan yang berbeda, namun seluruhnya dipertemukan oleh satu tujuan yang sama: mengabdikan ilmu pengetahuan demi kemajuan masyarakat.
Tahun ini, kedua posko secara konsisten mengusung literasi sebagai napas utama pengabdian mereka. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya perkembangan teknologi saat ini, budaya membaca dan kemampuan memahami informasi menjadi fondasi yang sangat penting bagi pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas di tingkat desa. Melalui berbagai program literasi yang terencana, mahasiswa berupaya menghadirkan ruang belajar yang lebih hidup dan menarik bagi anak-anak, remaja, maupun masyarakat umum di Kelurahan Salaka.
Program-program yang akan menjadi bagian dari perjalanan pengabdian mereka mencakup gerakan literasi masyarakat, kunjungan literasi ke sekolah-sekolah setempat, pembelajaran membaca yang menyenangkan, pelatihan menulis kreatif, diskusi buku interaktif, hingga pengembangan proyek-proyek berbasis bacaan yang relevan dengan kebutuhan lokal. Bagi para mahasiswa, buku bukan sekadar kumpulan halaman yang dipenuhi tulisan. Buku adalah jendela yang membuka cakrawala berpikir, menumbuhkan imajinasi, serta membangun karakter generasi muda. Oleh karena itulah, setiap kegiatan literasi dirancang agar mampu melahirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan membekas dalam ingatan masyarakat.
Di samping program utama yang berfokus pada literasi, mahasiswa juga telah menyiapkan berbagai program tambahan yang lahir dari hasil observasi lapangan yang mendalam dan dialog intensif bersama pemerintah kelurahan serta tokoh masyarakat. Seluruh kegiatan ini akan disesuaikan secara cermat dengan potensi dan karakteristik lokal sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara optimal dan berkelanjutan oleh masyarakat Kelurahan Salaka.
Selama sesi monitoring berlangsung, mahasiswa mempresentasikan hasil identifikasi mereka mengenai kondisi sosial, pendidikan, lingkungan, hingga potensi ekonomi masyarakat. Diskusi berlangsung sangat dinamis, dipenuhi berbagai gagasan cemerlang dan masukan konstruktif mengenai strategi pelaksanaan program, pola komunikasi yang efektif dengan masyarakat, serta pentingnya membangun kemitraan yang kuat dengan seluruh unsur pemerintah dan warga Kelurahan Salaka.
Koordinator Posko Salaka 1, Rhesa Ardiyanto, menyampaikan bahwa seluruh anggota posko telah berkomitmen penuh untuk menjadikan KKN sebagai ruang belajar bersama masyarakat. "Kami ingin hadir bukan sekadar menjalankan program kerja, tetapi lebih dari itu, membangun hubungan yang baik dan langgeng dengan masyarakat. Kami percaya bahwa keberhasilan KKN lahir dari kebersamaan dan kolaborasi. Karena itu, setiap kegiatan akan kami laksanakan melalui sinergi dengan pemerintah kelurahan, sekolah, tokoh masyarakat, dan seluruh warga," ujar Rhesa.
Hal senada juga disampaikan oleh perwakilan Posko Salaka 2, Muhammad Ariel Guevara Harly. Menurutnya, keberadaan mahasiswa di Kelurahan Salaka merupakan kesempatan emas untuk mengimplementasikan ilmu yang telah mereka peroleh di bangku kuliah, sekaligus belajar banyak dari nilai-nilai kehidupan dan kearifan lokal yang tumbuh di tengah masyarakat.
"Kami datang membawa ilmu dari kampus, tetapi kami juga datang untuk belajar dari masyarakat. Kami berharap seluruh program yang kami jalankan mampu menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih berdaya, terutama melalui penguatan budaya literasi," tutur Ariel.
Monitoring awal ini menjadi lebih dari sekadar agenda administratif; ia merupakan awal dari sebuah perjalanan pengabdian yang akan mempertemukan ilmu pengetahuan dengan pengalaman hidup masyarakat secara langsung. Di sanalah mahasiswa belajar bahwa pengabdian bukan hanya tentang bekerja untuk masyarakat, melainkan bekerja bersama masyarakat, sebagai mitra sejajar dalam membangun kemajuan. Kelurahan Salaka kini menjadi ruang bertumbuh bagi dua belas mahasiswa Universitas Hasanuddin.
Dari lorong-lorong kelurahan yang sederhana, ruang-ruang kelas sekolah, balai pertemuan, hingga halaman dan rumah-rumah warga, mereka akan menanam benih-benih literasi, memberdayakan potensi lokal yang tersembunyi, dan menguatkan semangat gotong royong yang telah lama menjadi ciri khas bangsa. Sebab pada akhirnya, KKN bukan hanya tentang menyelesaikan program kerja yang telah direncanakan. KKN adalah kisah tentang ilmu yang menemukan maknanya ketika dibagikan dengan tulus, tentang kepedulian yang menjelma menjadi tindakan nyata, dan tentang pengabdian yang meninggalkan jejak panjang perubahan positif bagi masyarakat. Dari Salaka, langkah kecil itu dimulai, membaca kehidupan, merawat harapan, dan bersama-sama menulis masa depan yang lebih cerah.