Ketika Atlanta Memaksa Lagu "Coming Home" Kembali Senyap
Intens.id, Sepak bola, tampaknya, masih enggan pulang ke rumah. Saat peluit panjang berbunyi di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, papan skor raksasa yang menunjukkan angka 1-2 seperti menjadi palu yang meremukkan mental setiap pendukung Inggris.
Mimpi besar untuk mengakhiri puasa gelar yang membentang selama enam dekade runtuh begitu saja di tanah Amerika Utara. Ironisnya, sosok yang datang sebagai algojo pembunuh mimpi itu adalah seteru klasik mereka sepanjang masa: Argentina.
Inggris di bawah Tuchel sebenarnya sempat bermain sangat rapi. Berambisi menyamai torehan legendaris generasi Sir Alf Ramsey tahun 1966, Tiga Singa tampil disiplin sejak sepak mula. Harapan itu bahkan membubung tinggi ketika Anthony Gordon memecah kebuntuan di menit ke-55 lewat sepakan terukur yang membuat tribune stadion bergemuruh hebat.
Namun, penyakit lama sepak bola Inggris kembali kambuh di momen paling krusial: kehilangan ketenangan saat memimpin.
Alih-alih menjaga ritme permainan, Inggris perlahan bermain terlalu dalam setelah unggul. Keputusan ini harus dibayar mahal ketika Enzo Fernandez menyamakan kedudukan pada menit ke-85. Laga yang tampaknya akan berlanjut ke babak tambahan waktu justru berakhir tragis di masa injury time. Memanfaatkan kelengahan lini belakang Inggris pada menit 90+2', Lautaro Martinez melepaskan tembakan mematikan yang tak mampu dihalau Jordan Pickford.
"Kami bermain bagus hampir di sepanjang laga," ujar kapten Inggris, Harry Kane, dengan tatapan kosong usai pertandingan. "Namun, saat unggul, kami justru bermain bertahan. Di level seperti ini, kesalahan sekecil itu langsung menghukum Anda."
Bagi publik Inggris, patah hati di babak semifinal bukanlah barang baru. Sejak mengangkat trofi Jules Rimet di Stadion Wembley pada 1966, perjalanan mereka di turnamen mayor selalu diwarnai oleh narasi "nyaris juara" yang berakhir pilu.
Sejarah mencatat kisah-kisah serupa:
-
Turin 1990: Air mata Paul Gascoigne mengalir setelah Inggris disingkirkan Jerman Barat lewat adu penalti di semifinal.
-
Rusia 2018: Gol cepat Kieran Trippier ke gawang Kroasia di semifinal seolah menguap begitu saja setelah lawan membalikkan keadaan di babak perpanjangan waktu.
-
Atlanta 2026: Kali ini, giliran gol telat Argentina yang memaksa pasukan muda Inggris mengepak koper lebih cepat dari laga puncak.
Sejak debut di Piala Dunia 1950, Inggris sudah melahirkan banyak generasi emas. Mulai dari era Bobby Charlton, Gary Lineker, David Beckham, hingga kini dihuni talenta berbakat seperti Jude Bellingham dan Bukayo Saka. Namun, ramuan untuk memutus kutukan di fase empat besar tetap belum ditemukan.
Kini, tugas berat menanti Thomas Tuchel. Ia harus segera memulihkan mental anak asuhnya yang sedang terpuruk demi menghadapi laga hiburan melawan Prancis dalam perebutan tempat ketiga.
Laga bertajuk derbi klasik Eropa ini akan digelar di Stadion Hard Rock, Florida, pada Minggu, 19 Juli 2026 pukul 04:00 WITA. Meraih medali perunggu setidaknya bisa menjadi sedikit penawar luka bagi publik London, sekaligus menyamai pencapaian terbaik Inggris di luar kandang pada Piala Dunia 1990 silam.
Piala Dunia 2026 mungkin menjadi kuburan mimpi bagi Bellingham dan kolega. Lagu "It's Coming Home" yang sempat menggema di jalanan kota London kini harus kembali disimpan rapat-rapat di dalam laci—setidaknya sampai empat tahun ke depan