Intens.id Versi penuh
News

Jadi Narasumber Webinar Klikhijau, Personel Polres Jeneponto Kupas Urgensi Tanah Sehat untuk Ketahanan Pangan Organik

Oleh Redaksi Intens.id 07 Jul 2026 22:16 5 menit baca

Intens.id, Makassar - Komitmen nyata dalam mengawal masa depan pertanian berkelanjutan di Indonesia kembali menggema. Sebuah narasi perubahan yang inspiratif kini datang dari institusi kepolisian, melalui sosok personel Kepolisian Resor (Polres) Jeneponto, Iptu Purnawanto, S.E., yang kini menjabat sebagai Kapolsek Batang. Kiprahnya dalam memelopori dan mengedukasi pertanian organik berbasis kesadaran ekologis menjadi sorotan utama dalam forum diskusi nasional yang diselenggarakan secara daring, menegaskan bahwa peran aktif multi-pihak sangat esensial dalam mewujudkan kedaulatan pangan.

Kehadiran perwira pertama Polri tersebut menjadi pembeda dalam Webinar Suara Aksi Volume II bertajuk "Masa Depan Narasi dan Aksi Pertanian Organik di Indonesia" yang sukses digelar pada Selasa, 7 Juli 2026. Webinar yang dipandu oleh jurnalis Klikhijau.com, Arman Jaya, serta dibuka dengan opening speech dari Direktur Klikhijau.com, Anis Kurniawan, bertujuan membedah sejauh mana peran multipihak, baik komunitas, pemerintah, media, maupun masyarakat dalam membangun kedaulatan pangan yang sehat dan ramah lingkungan. Selain Iptu Purnawanto, webinar ini juga menghadirkan perwakilan dari Aliansi Organis Indonesia (AOI), Sukmi Alkausar, sebagai narasumber, memperkaya perspektif diskusi.

Lahir di Purworejo pada tanggal 18 Mei dari keluarga petani, denyut nadi pertanian tampaknya telah mengalir lama di tubuh Iptu Purnawanto. Meski ia memilih jalan hidup dengan memulai karier kepolisian di Korps Brimob Polda Sulawesi Selatan dan telah bertugas menjelajahi Nusantara dari ujung Sumatera hingga ujung Papua, kecintaannya terhadap tanah dan lingkungan tidak pernah luntur. Akar kultural sebagai anak petani menjadikannya sangat peka terhadap jerit payah para petani lokal di berbagai daerah penugasannya, menumbuhkan empati dan keinginan untuk memberikan kontribusi lebih.

Sejak tahun 2016, Iptu Purnawanto mulai menekuni dunia pertanian organik secara mendalam sembari konsisten mengajak masyarakat sekitar untuk beralih dari ketergantungan pupuk kimia. Baginya, tugas polisi tidak hanya sebatas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), melainkan juga hadir memberikan solusi konkret bagi ketahanan ekonomi dan kelestarian lingkungan tempatan. Filosofi ini membuktikan bahwa aparat keamanan juga dapat menjadi agen perubahan yang signifikan dalam sektor vital seperti pertanian.

Dedikasi tersebut kian mengkristal saat ia ditugaskan di bumi Papua. Pada tahun 2019, ia mendapatkan penghargaan (reward) prestisius dari Kapolri untuk mengikuti Sekolah Inspektur Polisi (SIP). Penghargaan itu buah dari ketulusannya membagikan pupuk hayati cair secara gratis serta merangkul warga lokal Papua untuk aktif bercocok tanam, sebuah langkah yang tidak hanya memberdayakan ekonomi lokal tetapi juga mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat.

Langkah humanis Iptu Purnawanto terus berlanjut hingga membawanya masuk dalam jajaran nominator Hoegeng Awards pertama pada tahun 2022 untuk Kategori Polisi Berdedikasi. Pengakuan di tingkat nasional ini diraih atas konsistensinya memproduksi dan menggratiskan pupuk organik hayati cair kepada para petani binaannya. Di tengah peliknya masalah kelangkaan dan mahalnya harga pupuk kimia, inisiatif membagikan pupuk organik ramah lingkungan ini laksana oase bagi komunitas petani kecil, memberikan harapan baru di tengah tantangan.

Melalui formula pupuk hayati cair andalannya yang diberi nama Bio Teratai, sebuah produk pembenah tanah dan nutrisi alami yang diolah menggunakan cairan maggot Black Soldier Fly (BSF), ia berhasil memulihkan kondisi lahan pertanian yang telanjur rusak. Dalam pemaparannya di webinar, Iptu Purnawanto menguraikan secara gamblang potret permasalahan mendasar yang dihadapi petani saat ini. Menurutnya, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dan terus-menerus telah membuat kondisi tanah menjadi bantat, rusak, dan asam, mengurangi produktivitas dan keberlanjutan lahan.

"Semesta ini secara alami sebenarnya sudah dirancang untuk memiliki keseimbangan. Masalahnya, mikrobia baik di dalam tanah bisa hilang akibat perlakuan yang salah dalam pemupukan kimiawi dan penggunaan pestisida berlebih. Oleh karena itu, demi mengembalikan keseimbangan ekosistem lahan, kita wajib mengaplikasikan kembali pupuk hayati sebagai pembenah tanah," urai Iptu Purnawanto dalam webinar tersebut. Ia mengibaratkan kerja pupuk organik hayati ibarat merestorasi tanah agar kembali berfungsi seperti spons yang gembur, membuat akar tanaman dapat mencari nutrisi dengan leluasa, sementara miliaran mikroba di dalamnya bekerja secara gratis untuk menyuburkan tanaman. Cara pemakaiannya pun dinilai sangat praktis dan ekonomis bagi masyarakat luas, menjadikannya solusi yang mudah diadaptasi.

Lebih dari sekadar memulihkan kesuburan tanah, gerakan pertanian organik yang diinisiasinya selama ini telah bertransformasi menjadi sebuah gerakan sosial-kemanusiaan yang masif. Bersama dengan kelompok petani binaannya, salah satunya Kelompok Tani Kanre Apia di Kabupaten Gowa, Iptu Purnawanto menggerakkan aksi sosial bertajuk Sedekah Sayur. Hasil panen sayuran organik yang melimpah dan sehat secara rutin disalurkan kepada kaum duafa, puluhan panti asuhan, hingga para korban yang terdampak bencana alam di berbagai wilayah Sulawesi Selatan, menunjukkan dampak nyata dari pertanian organik yang berorientasi pada kesejahteraan sosial.

Hingga pertengahan tahun 2026 ini, akumulasi bantuan sayuran segar yang telah disalurkan secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan tercatat telah menembus angka lebih dari 100 ton. Sebuah pencapaian luar biasa yang membuktikan bahwa pertanian organik tidak hanya bernilai ekologis tinggi, melainkan juga memiliki dampak sosial-ekonomi yang luar biasa bagi ketahanan sosial masyarakat, menciptakan lingkaran positif antara produksi pangan sehat dan kepedulian sosial.

Tak heran, dedikasi kolektif lingkungan ini turut mengantarkan simpul-simpul binaannya meraih penghargaan Kalpataru 2026 dan menjadikan wilayahnya sebagai Kampung Iklim Lestari yang sukses mewakili Indonesia di ajang internasional di Dubai. Pencapaian ini menjadi bukti konkret bahwa inisiatif lokal dengan semangat keberlanjutan dapat memiliki resonansi global.

Melalui Webinar Suara Aksi Volume II ini, kisah inspiratif dari Iptu Purnawanto menjadi penegasan kuat bahwa masa depan pertanian organik di Indonesia berada di tangan orang-orang yang berani beraksi secara nyata di lapangan. Kolaborasi harmonis antara aparat penegak hukum, jurnalis lingkungan seperti media Klikhijau.com, aliansi komunitas, serta kesadaran kolektif para petani diharapkan mampu mereplikasi gerakan serupa di berbagai penjuru Nusantara demi mewujudkan pangan Indonesia yang sehat, berdaulat, dan berkelanjutan. Inisiatif ini adalah panggilan bagi kita semua untuk bersama-sama membangun ketahanan pangan yang lebih baik untuk generasi mendatang.

Topik terkait
Polres Jeneponto Ketahanan Pangan Seminar Nasional Lingkungan Pertanian Organil