Intens.id Versi penuh
News

Ikhtiar Hijau di Maros: Unhas Dampingi Pesantren Darul Istiqamah Kelola Sampah Berbasis Sumber

Oleh Redaksi Intens.id 13 Jul 2026 17:45 6 menit baca

Intens.id, Maros - Komitmen mewujudkan ekosistem pendidikan Islam yang tidak hanya unggul dalam spiritualitas tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan terus diperkuat di Kabupaten Maros. Langkah progresif ini diwujudkan melalui peluncuran program bertajuk Green Pesantren Initiative oleh Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maccopa, yang menggandeng akademisi lintas disiplin dari Universitas Hasanuddin (Unhas). Inisiatif hijau ini secara resmi dimulai dengan pelaksanaan pelatihan teknis intensif bagi para pengurus Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) pada Minggu, 12 Juli 2026. Kehadiran para pakar ini menandai era baru dalam merevitalisasi total sistem pengelolaan limbah di kawasan pesantren, menjadikannya model keberlanjutan.

Program strategis ini berhasil direalisasikan berkat dukungan penuh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendorong inovasi lingkungan di sektor pendidikan. Pelatihan teknis ini bukanlah kegiatan tunggal, melainkan kelanjutan dari rangkaian sosialisasi mendalam yang telah sukses diselenggarakan pada pekan sebelumnya bersama jajaran pimpinan tinggi pondok pesantren. Sinergi kuat antara otoritas pesantren dan dunia kampus ini menjadi fondasi kokoh untuk memastikan setiap tahapan program berjalan selaras dengan visi jangka panjang dan kebutuhan riil warga pesantren, menciptakan dampak yang berkelanjutan dan terukur.

Salah satu poin krusial yang ditekankan dalam program Green Pesantren Initiative ini adalah pentingnya membangun cara pandang baru terhadap sampah. Anggota tim pengabdian Unhas, Prof. Veni Hadju, M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan tidak boleh lagi dipandang sebagai aktivitas rutin harian yang menjemukan atau sekadar kewajiban sesaat. Sebaliknya, ia harus diletakkan dalam kerangka investasi kelembagaan jangka panjang yang akan memberikan manfaat berlipat ganda di masa depan. Menurut Prof. Veni, pondok pesantren dengan jumlah santri yang besar memiliki potensi sekaligus tantangan sirkularitas yang tinggi dalam hal produksi limbah harian, sehingga memerlukan pendekatan sistematis dan komprehensif.

"Kami datang ke sini tidak membawa program instan yang hanya bersifat sementara. Tim telah merancang sebuah cetak biru sistem yang matang dan terintegrasi agar dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun ke depan, Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maccopa benar-benar mampu mencapai kemandirian lingkungan yang utuh. Ini juga termasuk mewujudkan standar kesehatan komunal yang berkelanjutan bagi seluruh warga pesantren," jelas Prof. Veni Hadju di hadapan para peserta pelatihan yang tampak antusias, menggarisbawahi urgensi perubahan paradigma tersebut.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Unhas, Muh. Fajaruddin Natsir, SKM., M.Kes., menguraikan bahwa intervensi utama dari pendampingan ini difokuskan pada penguatan kapasitas operasional serta manajemen pengelola TPS 3R Istiqamah yang selama ini membutuhkan optimalisasi. Ia menekankan bahwa kunci utama keberhasilan dari program sirkular ekonomi di tingkat komunitas adalah konsistensi sumber daya manusia yang menjalankannya, bukan hanya ketersediaan fasilitas. Oleh karena itu, pendekatan praktis dan transfer pengetahuan menjadi menu utama yang disuguhkan oleh para dosen Unhas, memastikan bahwa keterampilan yang diajarkan dapat langsung diaplikasikan.

"Tujuan mendasar dari program revitalisasi ini adalah membekali seluruh pengurus dengan keterampilan teknis yang mumpuni serta standar operasional prosedur (SOP) kerja yang jelas dan terstruktur. Kami ingin memastikan bahwa setelah pelatihan ini selesai, operasional TPS 3R di Darul Istiqamah dapat kembali berfungsi secara rutin, berkelanjutan, dan yang terpenting, kinerjanya dapat terukur dengan baik setiap bulannya. Ini akan menjadi indikator keberhasilan program kami," ungkap Fajaruddin penuh optimisme, menyoroti pentingnya keberlanjutan dan akuntabilitas.

Dalam sesi ruang dan praktik lapangan, para peserta disuguhkan materi-materi aplikatif yang sangat krusial bagi ekosistem lokal pesantren. Materi pertama diisi oleh Dr. Muhammad Asfar, STP., M.Si., yang mengupas tuntas urgensi pengelolaan sampah berbasis sumber. Dr. Asfar menegaskan bahwa pemilahan sampah sejak dari dapur, asrama, dan ruang kelas adalah kunci keberhasilan rantai pasok pengolahan. Tanpa pemilahan yang baik di hulu, proses di hilir akan menjadi tidak efisien. Tak hanya teori, ia juga memimpin langsung simulasi dan pelatihan teknik pengomposan bahan organik dengan formula khusus yang mempercepat dekomposisi tanpa menimbulkan bau menyengat, menjamin proses yang higienis dan efisien.

Selanjutnya, materi yang tak kalah menarik perhatian adalah pemanfaatan teknologi biokonversi menggunakan Maggot Black Soldier Fly (BSF). Sesi inovatif ini dipandu langsung oleh Muh. Fajaruddin Natsir. Dalam paparannya, ia memberikan panduan komprehensif mengenai tata cara budidaya larva lalat tentara hitam ini, mulai dari persiapan media hingga panen. Pemanfaatan Maggot BSF diulas sebagai solusi cerdas, higienis, dan ramah lingkungan yang mampu mereduksi sampah organik dalam volume besar dengan waktu yang relatif sangat cepat, menjadikannya pilihan ideal untuk lingkungan pesantren dengan produksi limbah organik yang signifikan.

Menariknya, siklus hidup maggot ini tidak hanya menyelesaikan masalah tumpukan sisa makanan di pesantren, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi tinggi yang baru, menciptakan konsep green economy yang konkret. Larva maggot yang kaya akan protein dapat dipanen untuk dijadikan pakan alternatif berkualitas tinggi bagi sektor perikanan maupun peternakan, membuka peluang usaha baru bagi pesantren. Sementara itu, sisa residu makanannya, yang dikenal sebagai kasgot, dapat langsung diaplikasikan sebagai pupuk organik cair maupun padat yang sangat bermanfaat bagi tanaman di sekitar pesantren, menutup siklus nutrisi secara sempurna.

Setelah sesi materi usai, seluruh peserta bersama tim fasilitator langsung bergerak menuju lokasi TPS 3R Darul Istiqamah. Di area ini, aksi nyata di lapangan benar-benar dipraktikkan. Para santri dan pengurus bahu-membahu memilah sampah sesuai jenisnya, menyiapkan media pembiakan maggot dengan cermat, dan mempraktikkan pencampuran bahan baku kompos secara langsung di bawah supervisi ketat para dosen ahli, memastikan setiap langkah dilakukan dengan benar dan aman.

Jika ditarik ke dalam peta gerakan yang lebih luas, inisiatif hijau yang digagas oleh dosen-dosen Unhas ini selaras dengan komitmen global dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Setidaknya ada dua poin utama SDGs yang disasar secara langsung melalui program Green Pesantren Initiative ini, menunjukkan relevansi global dari upaya lokal ini.

Pertama, program ini berkontribusi nyata pada pencapaian SDG 11 mengenai Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan. Kontribusi ini diwujudkan melalui upaya konkret peningkatan tata kelola sampah yang adaptif, efektif, dan berbasis komunitas di tingkat terkecil, dalam hal ini lingkungan lembaga pendidikan berasrama. Kedua, program ini secara langsung mendorong tercapainya target SDG 12 terkait Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan sistem reduce (mengurangi) dan reuse (menggunakan kembali) dalam dinamika kehidupan harian para santri, serta mentransformasi limbah menjadi produk bernilai tambah melalui prinsip ekonomi sirkular.

Langkah fundamental yang dimulai di Maros ini dipastikan tidak akan berhenti pada seremoni pelatihan pekan ini saja. Ke depan, tim dosen Universitas Hasanuddin telah berkomitmen penuh untuk terus memberikan pendampingan intensif, monitoring berkala, serta evaluasi sistemik guna memastikan TPS 3R Istiqamah berjalan stabil, mandiri, dan efisien dalam jangka panjang. Komitmen ini menunjukkan dedikasi Unhas dalam menciptakan dampak berkelanjutan.

Melalui transformasi mendasar pada sistem tata kelola limbah ini, Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maccopa diharapkan tidak hanya sukses membersihkan lingkungannya sendiri dan meningkatkan kesehatan komunal. Lebih dari itu, pesantren ini diharapkan mampu bermutasi menjadi role model atau percontohan ideal bagi ratusan pondok pesantren lainnya di wilayah Sulawesi Selatan, bahkan Indonesia. Harapan besarnya, gerakan dari bilik pesantren ini mampu menginspirasi lahirnya ekosistem pendidikan Islam yang tidak hanya fokus pada pembangunan spiritual dan intelektual, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki literasi ekologi yang kuat, berwawasan hijau, mandiri dalam pengelolaan sumber daya, dan produktif secara ekonomi, menciptakan pemimpin masa depan yang peduli lingkungan.

Topik terkait
Unhas TPS3R Maros Kemdiktisaintek Lingkungan Ekonomi sirkular SDGs Green Pesantren Darul Istiqamah