Intens.id Versi penuh
Environmental

Hutan Lindung Jampea Kembali Ungkap Keajaiban: Dua Burung Langka Teridentifikasi, Konservasi Mendesak

Oleh Redaksi Intens.id 03 Jul 2026 09:27 4 menit baca

Intens.id, Benteng – Kabar gembira sekaligus krusial bagi upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia datang dari jantung Kepulauan Selayar. Tim peneliti berhasil mengonfirmasi keberadaan dua spesies burung langka yang statusnya terancam punah di Hutan Lindung Jampea, Pulau Jampea, Kabupaten Kepulauan Selayar. Penemuan ini menjadi bukti nyata kekayaan ekosistem dan urgensi pelestarian kawasan tersebut di tengah ancaman global terhadap biodiversitas.

Perjumpaan signifikan ini terjadi dalam serangkaian kunjungan lapangan yang intensif pada tanggal 8 hingga 14 Juni 2026. Para peneliti dari berbagai lembaga melakukan pengamatan mendalam di tiga titik berbeda dalam Hutan Lindung Jampea. Hasilnya sungguh menggembirakan, mengindikasikan bahwa ekosistem hutan di pulau ini masih sangat mendukung kehidupan satwa endemik yang rentan, sekaligus memberikan secercah harapan bagi masa depan konservasi di wilayah Wallacea.

Dua spesies burung yang berhasil diidentifikasi adalah Kakatua Jambul Kuning subspesies Cacatua sulphurea djampeana dan Kehicap Tanah Jampea (Symposiachrus everetti). Kakatua Jambul Kuning, dengan ciri khas jambul kuning cerah yang mencolok, kini masuk dalam kategori Kritis (Critically Endangered) berdasarkan daftar merah IUCN, menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar.

Status ini menunjukkan betapa gentingnya situasi populasi burung paruh bengkok ini, yang sering menjadi target perburuan ilegal dan perdagangan satwa liar. Sementara itu, Kehicap Tanah Jampea, burung endemik dengan habitat terbatas, berstatus Terancam (Endangered). Kehadiran kembali kedua burung ini secara bersamaan menegaskan bahwa Hutan Lindung Jampea bukan sekadar area hijau, melainkan benteng terakhir bagi kelangsungan hidup spesies-spesies unik ini.

Pulau Jampea, bersama dengan Pulau Kalaotoa, telah lama diakui sebagai Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati (Important Bird and Area/IBA). Penunjukan ini bukan tanpa alasan, mengingat kawasan tersebut menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna endemik lainnya yang memiliki nilai ekologis tinggi. Selain kedua burung langka tersebut, hutan Jampea juga dihuni oleh mamalia penting seperti rusa timor dan landak, serta berbagai jenis burung paruh bengkok lainnya yang turut memperkaya ekosistemnya. Status IBA ini semakin memperkuat urgensi perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan terhadap kawasan Hutan Lindung Jampea, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari warisan alam Indonesia.

Kabar mengenai perjumpaan burung langka ini tidak hanya berhenti di tingkat lapangan. Temuan krusial ini kemudian disosialisasikan dalam sebuah kegiatan penting yang diselenggarakan di Cafe Warkop Tanadoang, Benteng, pada tanggal 30 Juni 2026.

Acara tersebut dirancang untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, hingga pemerintah desa di Kecamatan Pasimasunggu yang memiliki wilayah bersinggungan langsung dengan hutan lindung. Kehadiran mitra konservasi internasional, Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP), juga menunjukkan komitmen global terhadap pelestarian keanekaragaman hayati di Selayar, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya konservasi.

Pertemuan strategis ini difasilitasi oleh Balai Taman Nasional Taka Bonerate, sebuah institusi yang memiliki rekam jejak panjang dalam pengelolaan kawasan konservasi di Selayar dan sekitarnya. Dukungan pendanaan dari program FOLU-RBC 2&3 Tahun 2026 turut memastikan kelancaran kegiatan sosialisasi dan penelitian yang berkelanjutan, yang sangat vital untuk pemahaman dan pengelolaan ekosistem.

Dalam kesempatan tersebut, Djudjuk Wijono, S.Hut, M.Si., dan Rudiono, S.Kel, dari Direktorat Pemulihan Ekosistem Kementerian Kehutanan, secara khusus menjelaskan mengenai kebijakan Areal Preservasi. Mereka menggarisbawahi bahwa kebijakan ini merupakan langkah strategis yang tidak hanya bertujuan untuk menjaga fungsi ekologis kawasan secara optimal, tetapi juga dirancang untuk tetap mendukung kesejahteraan masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan hutan, melalui pendekatan konservasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Menyambut penjelasan tersebut, pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Selayar dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Selayar menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif konservasi ini. Mereka menekankan harapan agar pengelolaan kawasan Hutan Lindung Jampea dapat dilakukan secara kolaboratif, transparan, dan berbasis pada data akurat.

Pentingnya untuk tetap memperhatikan hak-hak dan kepentingan masyarakat sekitar hutan juga menjadi poin utama yang disuarakan, menegaskan bahwa konservasi harus berjalan seiring dengan pembangunan sosial-ekonomi yang adil dan berkelanjutan, bukan mengorbankannya.

Diskusi yang berlangsung hangat dan konstruktif tersebut mencapai satu kesimpulan bulat: pelestarian Hutan Lindung Jampea bukanlah sekadar tugas menjaga tegakan pepohonan semata. Lebih dari itu, konservasi kawasan ini adalah sebuah misi vital untuk memastikan satwa-satwa endemik yang unik dan rentan tersebut tetap memiliki rumah yang aman dan lestari di alam liar, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Kesepahaman ini menjadi modal berharga untuk langkah-langkah konservasi ke depan, yang memerlukan sinergi dan komitmen dari semua pihak.

Dengan ditemukannya kembali spesies-spesies langka ini dan adanya dukungan kuat dari berbagai pihak, pengusulan Arahan Areal Preservasi kini menjadi harapan nyata yang bisa segera diwujudkan. Langkah ini dipandang sebagai upaya konkret untuk memperkuat kerangka perlindungan keanekaragaman hayati di Pulau Jampea, sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan. Bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar, Areal Preservasi diharapkan tidak hanya menjaga warisan alam yang tak ternilai, tetapi juga membawa dampak positif bagi kesejahteraan mereka di masa depan, menjadikan Jampea sebagai model konservasi yang harmonis antara manusia dan alam.

Topik terkait
Keanekaragaman Hayati Selayar Taman nasional Takabonerate Konservasi Kakatua Burung Hutan Lindung Ekosistem