Intens.id Versi penuh
Pendidikan

Alarm Pencemaran Lingkungan Lokal, Siswa SMAN 1 Mantup Temukan Mikroplastik di Udara dan Kulit Saat MPLS

Oleh Redaksi Intens.id 16 Jul 2026 20:13 4 menit baca

Intens.id,  Lamongan - Sebanyak 280 siswa kelas X SMAN 1 Mantup, Lamongan, mendapatkan pengalaman belajar yang tak terlupakan sekaligus mengkhawatirkan selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Kamis (16/7). Dalam kegiatan bertajuk "ECOTON Microplastic Journey," para siswa tidak hanya dibekali pengetahuan teoritis mengenai bahaya mikroplastik, tetapi juga secara langsung terlibat dalam penelitian sederhana yang mengungkap keberadaan partikel plastik super kecil tersebut di lingkungan sekolah mereka, bahkan hingga menempel pada kulit dan terhirup di udara.

Aktivitas edukatif ini merupakan kolaborasi antara SMAN 1 Mantup dengan Yayasan ECOTON, sebuah organisasi yang fokus pada isu lingkungan dan pencemaran sungai. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian siswa terhadap masalah lingkungan, khususnya dampak mikroplastik yang semakin mengancam ekosistem dan kesehatan manusia. Para siswa dibimbing untuk mengambil sampel dari berbagai media di sekitar sekolah, mulai dari udara di dalam kelas, udara di area aula, permukaan daun-daun di pekarangan sekolah, hingga sampel usapan dari permukaan kulit mereka sendiri.

Hasil pengamatan yang dilakukan secara teliti oleh para siswa menunjukkan temuan yang cukup mengejutkan dan menjadi sorotan. Mikroplastik terdeteksi pada seluruh media yang dijadikan sampel. Pada sampel udara yang diambil di dalam kelas selama 10 menit, ditemukan satu partikel berbentuk fiber dan tiga fragmen. Sementara itu, di area aula yang lebih terbuka, dalam durasi pengambilan sampel yang sama, teridentifikasi enam partikel fiber dan dua fragmen mikroplastik. Tidak hanya di udara, sampel daun juga menunjukkan adanya satu fragmen dan satu fiber, serta yang paling mencolok, sembilan partikel berbentuk fiber ditemukan pada permukaan kulit siswa.

Temuan ini memberikan gambaran jelas bahwa mikroplastik bukan lagi hanya masalah pencemaran laut dan sungai yang jauh dari pandangan mata, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lingkungan sehari-hari, bahkan di sekitar kita. Keberadaan mikroplastik di udara yang kita hirup setiap hari, serta kemampuannya menempel pada permukaan kulit, memicu kekhawatiran serius mengenai potensi dampak kesehatan jangka panjang. Para ahli lingkungan dan kesehatan masyarakat telah lama memperingatkan bahwa paparan mikroplastik, baik melalui inhalasi maupun kontak langsung, dapat membawa risiko bagi sistem pernapasan, pencernaan, dan bahkan hormonal, meskipun penelitian lebih lanjut masih terus dilakukan untuk memahami secara pasti mekanisme dan tingkat bahayanya.

Menanggapi hasil kegiatan ini, Kepala SMAN 1 Mantup, Mukrim, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan "ECOTON Microplastic Journey" sangat sejalan dengan visi "Program Sekolah Kreatif dan Inovatif" yang diinisiasi oleh Gubernur Jawa Timur. "Kami terus berupaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah. Meskipun belum sepenuhnya bebas plastik, kami telah menyediakan wadah guna ulang di beberapa kantin sebagai langkah awal," ujar Mukrim. Ia menambahkan, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang nyata dan berharga, sekaligus membangun kepedulian siswa terhadap lingkungan sejak dini.

Antusiasme yang tinggi juga terpancar dari para peserta. Mauriz, salah satu siswi kelas X SMAN 1 Mantup, mengungkapkan kegembiraannya. "Aku senang banget ada kegiatan ini, karena di sekolahku jarang ada praktik seperti ini. Aku jadi lebih tahu tentang mikroplastik dan dampaknya," tuturnya dengan semangat. Pengalaman langsung ini membuka wawasan siswa akan isu yang sebelumnya mungkin hanya mereka dengar secara sekilas.

Pengakuan yang lebih mendalam datang dari Fiyah, siswi baru SMAN 1 Mantup, yang mengaku baru memahami bahwa kebiasaan membakar sampah plastik di pekarangan rumah dapat menjadi salah satu sumber utama mikroplastik di udara. "Sampah di rumah saya sering dibakar di pekarangan. Aku baru tahu setelah belajar penelitian mikroplastik di udara ini kalau ternyata salah satu sumber mikroplastik di udara berasal dari pembakaran sampah plastik. Padahal setiap hari menghirup asapnya bisa bikin batuk-batuk dan sesak napas," ungkap Fiyah dengan nada prihatin. Ia bahkan bertekad untuk segera menyampaikan informasi ini kepada orang tuanya. "Setelah pulang sekolah nanti saya mau bilang ke orang tua saya kalau bakar sampah itu berbahaya, jadi nggak boleh bakar sampah lagi," tegasnya.

Melalui kegiatan "ECOTON Microplastic Journey" ini, diharapkan para siswa SMAN 1 Mantup tidak hanya menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah, tetapi juga di keluarga dan masyarakat luas. Kesadaran bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak membakar sampah, membawa botol minum (tumbler) dan wadah makan guna ulang, serta memilah sampah dengan benar, menjadi kunci. Langkah-langkah preventif ini merupakan bagian krusial dalam upaya kolektif untuk mengurangi pencemaran mikroplastik yang kini semakin meresahkan di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari, demi masa depan yang lebih sehat dan lestari.

Topik terkait
Lamongan Mikroplastik MPLS Ecoton